Helvry Sinaga

Dosen Tak (Boleh) Hanya Mengajar

Oleh: Elisabeth Rukmini 2 Komentar FacebookTwitter  
TERTIDUR di ruang kuliah bagi mahasiswa sudah hal lumrah. Dua hari yang lalu saya melihat mahasiswa saya tertidur nyenyak telentang di lantai seperti sangat kelelahan dan tak menyadari bahwa kuliah sudah dimulai. 
  Saya terus saja kuliah dengan prinsip mahasiswa adalah pembelajar yang telah dewasa sehingga jika pilihannya adalah tidur di ruang kuliah, silakan dengan merdeka memilih hal itu.
Meski demikian, saya merasa tertampar sebagai dosen, rupanya kuliah saya sudah tidak bermakna lagi sehingga ada pilihan lain yang lebih bermakna: bisa tidur, bisa juga melakukan aktivitas lain. Sang mahasiswa dibangunkan oleh teman di dekatnya ketika dalam sela-sela perkuliahan saya mengeluarkan soal untuk kuis interaktif.
 
Helvry Sinaga
Catatan Budaya

Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagai EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia.
Begitu juga lembaga pemerintah yang berperan menjalankan kerja diplomasi kebudayaan, belum menunjukkan perhatian pada sastra, sebagai bagian dari identitas Indonesia. Satu-dua novel Indonesia telah diterbitkan oleh penerbit major label di luar negeri, namun diupayakan oleh individu sastrawan yang bersangkutan.

Para sastrawan gelisah, karena tidak maju-maju, tak berpeluang terseleksi oleh komite juri Nobel sastra, dan merasa tertinggal oleh tradisi sastra di negara-negara Asia lainnya. Inferioritas semacam ini cukup membebani
iklim kekaryaan. Seolah-olah, penerjemahan itu satu-satunya jalan guna membuat sastra kita go international. Muncul kesan, sastra Indonesia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, jika belum tersedia dalam bahasa asing, sehingga upaya menawarkan buku-buku sastra ke penerbit-penerbit asing adalah
harga mati yang tak mungkin dihindari.
Helvry Sinaga

TENUN INDONESIA

Ada Ulos, Ada Batak

Bagi masyarakat Karo, uis gara (ulos dalam bahasa Batak) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama berkaitan dengan acara adat, termasuk upacara pemakaman.


Sebagai artefak budaya, ulos mencoba terus beradaptasi dalam titian zaman. Kesetiaan dan kreativitas petenun menjadi penggerak keberlangsungan ulos. Sebab, tanpa ulos, tiada pula yang disebut sebagai Batak.Kabut pagi yang tipis masih membayangi permukaan Danau Toba ketika tiga petenun muda di Samosir pergi mandi dan mencuci baju. Dina Simbolon (24), Royani Turnip (19), dan Bunga Nainggolan (18) berjalan beriring sembari membawa perlengkapan mandi. Hari itu, suplai air pipa di Desa Lumban Suhi-suhi di Pulau Samosir tak mengalir. Mandi di danau menjadi solusi praktis.
Sambil mencuci baju, Nani menyetel lagu di ponselnya. Lagu era 1990-an dari Michael Bolton, ”Said I Loved You but I Lied”, terdengar di antara suara kecipak air di tepian danau. Sementara itu, Dina dan Bunga sudah asyik mandi dan berenang di danau. ”Rencana saya sebenarnya pingin kuliah di fakultas hukum,” kata Nani dengan rona wajah malu-malu.