Helvry Sinaga
Cerpen Laron
Pengarang: Mashdar Zainal
dimuat di Kompas 6 Maret 2011

Anak kecil mempunya imajinasi yang kadang tidak dapat dipahami oleh orang dewasa. Seperti tokoh "Aku" dalam Cerpen ini. Ia seorang anak tunggal di sebuah keluarga. Ia dimarahi ayahnya karena memasukkan laron dari luar rumah ke kamarnya. Mungkin bagi seorang anak, mengasyikkan melihat laron terbang berputar-putar mengelilingi lampu kemudian sayapnya luruh dan laron tersebut berjalan di lantai.

Ia akhirnya mengunci kamar dan membuka jendela supaya laron semakin banyak datang ke kamar. Kemudian ia membersihkan sayap yang jatuh serta mengambil rantang plastik untuk menampung laron yang sudah tak bersayap.

Pelajaran yang penting disini adalah ketika laron tersebut berbicara (ini fiksi banget) yang mengatakan kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak...semoga kamu tidak menjadi seperti kami yang menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.

Akhirnya "Aku" melihat bahwa bapaknya katak dan cicak itu ketika di meja makan bapaknya dengan lahap memakan rempeyek laron.
Helvry Sinaga
Ini foto dulu sebelum kita berangkat ke kantor gubernur di Padang Desember lalu. Seperti biasa, kita akan cari korban yang mau motoin kita. Kali ini adalah satpam hotel.
Kenapa yang ada label Sold-nya adalah embak-embak. Awalnya sih mau nutupin tanggal yang ada di kanan bawah, kok nggak nemu-nemu yang cocok. Akhirnya ketemu yang sold ini, dan berhubung harena dia satu-satunya dari kita berempat yang sudah merid. jadilah dicocok-cocokkan. hahaha.

Kenapa pakai topi and syal segala, gara-gara nyobain fasilitas editing pada photobucket, eh nggak taunya bisa yg kayak beginian..Seru banget daah..nggak terasa kerjaan pun ditinggal. hehehee

PS. Ket Gambar
(dari kiri ke kanan)
Arlin-Helvry-Mbak Tari-Bayu.
Lokasi: Hotel Pangeran Beach, Padang
Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga
Saya salut dengan kepiawaian fotografer yang mengambil momen ini. Foto ini adalah gambar headline Kompas hari ini (4 Maret 2011) yaitu gambar seorang anak melihat ke luar jendela dari dalam bus yang membawanya ia dan keluarganya meninggalkan Tunisia-Libya.

Seperti yang kita tahu bahwa Libya saat ini sedang dilanda krisis kepemimpinan dimana terjadi perang saudara antara penentang Moamar Khadafy dan pasukan pembelanya.
Hal yang mirip terjadi sewaktu terjadi Instabilitas di Aceh. Saat itu sekitar akhir Desember 1999. Ibu saya dan adik saya harus meninggalkan Aceh Tengah karena dinilai Aceh tidak akan bergabung lagi dengan NKRI. Saat itu saya tidak mengerti kondisi politik dan keamanan. Ibu saya tiba di Medan dengan membawa sebegitu banyak barang-barang. Lemari, Meja makan, lemari es, tempat tidur, koper yang diisi pakaian penuh. Dan ibu saya menangis. Menangis karena apa? Semua. Sebab sepertinya tidak akan ada lagi masa depan di sana. Ibu saya mungkin menangisi apa yang sudah dikumpulkan sedikit-sedikit sehingga ada tempat bernaung keluarga kami, ibu mungkin menangisi kota yang sudah dicintainya, ibu mungkin menangisi bahwa ia akan berpisah dengan teman dekat yang sudah seperti keluarga, dan ibu menangisi bapak saya yang (masih) berada di sana.

Banyak orang yang mungkin menganggap biasa berita seperti perang saudara, menggulingkan pemerintahan dengan kekerasan, demonstrasi. Tapi bagi saya, hal itu berbeda. Ada satu atau dua keluarga yang sedang menangisi hal itu. Sebab tanpa perlu diceritakan, sebenarnya hati menjerit. Semoga krisis di Libya lekas berlalu. Tidak peduli siapa pemimpinnya. Peduli pada rakyatnya.

salam damai.

Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga


Penerbit Komunitas Bambu bekerjasama dengan LKBN ANTARA menyelenggarakan:
Bedah Buku Sumatera Tempo Doeloe.
Dari Marco Polo sampai Tan Malaka
(Komunitas Bambu, November 2010)
disusun oleh Anthony Reid

Tempat:
Wisma Antara, Ruang Rapat Utama Lt. 19
Jl. Medan Merdeka Selatan, No. 17 Jakarta Pusat

Tanggal, jam:
Jum’at, 4 Maret 2011, pukul 15.00 – 17.00 WIB

Narasumber :

1. Basyral Hamidy Harahap
Sejarawan Sumatera yang banyak menulis buku tentang Sumatera. Beberapa punlikasinya antara lain, Kejuangan Adam Malik (1917–1984) (Yayasan Adam Malik, 1998); Greget Tuanku Rao (Komunitas Bambu, 2007); Dari Penyabungan ke Madina (2010); dan sejumlah makalah serta pengantar pada buku-buku sejarah, terutama kajian Sumatera Utara.

Basyral Hamidy Harahap dilahirkan di Mandailing Natal, 15 November 1940. Sebelumnya sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1965-1967) dan menjadi bibliographer Ikatan Penerbit Indonesia Pusat 1967-1969.

2. Dewi Anggraeni
Penyunting buku Sumatera Tempo Doeloe. Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Sehari-hari bekerja sebagai pengajar tetap Bahasa Jepang di Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Sebagai lulusan pascasarjana Program Studi Ilmu Susastra Universitas Indonesia, Dewi Anggraeni akan hadir tidak hanya memaparkan proses kreatif penyuntingan buku ini, namun juga membedah buku tersebut menggunakan kacamata seorang akademisi kesusasteraan.

Moderator: Uswatul Chabibah (Pemimpin Redaksi Penerbit Komunitas Bambu)

SINOPSIS
Sumatera Tempo Doeloe. Dari Marco Polo sampai Tan Malaka berisi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera. Dipilih dan disusun oleh pakar sejarah Sumatera paling terkemuka, Anthony Reid, membuat kumpulan catatan perjalanan para penjelajah yang pernah menginjakkan kaki langsung ke tanah Sumatera ini menjadi sebuah perkisahan memukau tentang periode panjang sejarah Sumatera dari abad ke-9 sampai ke-20.

Meskipun tidak menceritakan sejarah Sumatera secara runtun, buku ini mengelompokkan catatan-catatan perjalanan tersebut dalam topik-topik tertentu sehingga dapat diperoleh gambaran umum tentang perubahan sosial, budaya, agama maupun politik di Sumatera. Sebab itu buku dapat menjadi sejenis ‘pengantar’ yang dapat dipakai sebagai media paling cepat untuk memasuki ruh Sumatera.

Namun, buku ini tidak hanya berisi uraian umum perihal kondisi Sumatera. Dimasukkan juga pengamatan atas seluk-beluk daerah yang dikunjungi maupun tingkah-polah masyarakatnya, sehingga memberikan warna tersendiri. Tak ayal pembaca buku ini akan menemukan banyak uraian yang tidak muncul dalam tulisan-tulisan sejarah yang sifatnya resmi, misalnya penggambaran Marco Polo yang menyangka menemukan unicorn di Sumatera. Lain lagi John Davis, petualang Inggris yang menggambarkan Sultan Alau’ddin Ri’ayat Syah dengan sangat karikatural sebagai sultan Aceh yang “Tidak melakukan apa pun sepanjang hari selain makan dan minum”. Atau kesaksian-kesaksian yang bikin ketawa, seperti ketika Friedrich Schnitger menggambarkan permusuhannya dengan raja lokal gara-gara kesal profesinya sebagai antropolog dicemooh dengan julukan ‘dokter batu’.

Catatan yang dibuat Reid pada setiap kesaksian yang dipilih, bukan saja akan memudahkan setiap pembaca mengenali sosok si pemberi kesskian, memahami konteks zaman ketika kesaksian dibuat, tetapi juga bagaimana menafsirkan ulang dan mencermati secara kritis kesaksian yang diberikan, sehingga pembaca tidak sekadar hanya bernostalgia ke Sumatera Tempo Doeloe.

* * *

Penerbit Komunitas Bambu (www.komunitasbambu.com)
Jl. Pala No. 4B Beji Timur
Depok, 16422, Jawa Barat
Phone/Fax: 021 – 7720 6987 / 0813 8543 0505 (CP. Nana Kurnia)
Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga
sekilas kita tidak akan tahu dimana ini. Tapi setelah saya cermati, dan setelah membaca beritanya, ini adalah Pantai Losari. Wow..saya tidak menyangka. Pertama kali datang ke Makassar pada Tahun 2006, pantainya tidak ada kapal-kapal seperti pada gambar ini.

Salut pada pemerintah daerah yang peduli akan pariwisata. sebab dengan daya tarik wisata, pemerintah secara tidak langsung memperkenalkan Indonesia pada dunia.

Pantai Losari terletak di pusat kota Makassar. Di sepanjang jalan pantai ini, tersedia banyak rumah makan yang menarik untuk dicoba. Aneka makanan tersedia, terutama yang bertema seafood. Ada satu warung mie yang menghadap laut. Viewnya bagus, makanannya enak dan murah. Di belakangnya lagi (Jalan Sombaopu) banyak toko yang menjual souvenir khas sulawesi selatan. Ada minyak kayu putih, kaos, hiasan dinding, dan sebagainya.

Tertarik kesini? hanya dua jam dari Makassar. dan di dekat pantai ini juga ada benteng peninggalan milik rakyat Sulsel yang diambil alih oleh Belanda. Bentengnya masih bagus dan terawat. Kalau mau ke Pulau Samalona, dapat menyewa perahu dari sini.

Kira-kira itu saja infonya. Silahkan teman-teman hunting lagi.
selamat berjalan-jalan.
Helvry Sinaga
Paperback, Gold Edition, 536 pages
Published October 2010 (first published 1960)
Penerbit Qanita (Mizan Group)

"..Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa." (Hlm 173).

Novel klasik yang sudah berusia 50 tahun sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1960. Kehidupan di kota kecil Maycomb County, Alabama memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan masyarakat pada saat itu. Dimana pengalaman masa lalu menjadi pelajaran berharga. Diceritakan dari sudut pandang seorang anak 6 tahun, Jean Louis atau Scout yang bermain bersama kakaknya Jeremy Finch dan sahabat musim panas mereka, Dill. Ayah mereka, Atticus Finch adalah seorang pengacara. Ibu mereka sudah meninggal, namun ada Calpurnia yang mengasuh mereka.

Toleransi
Jean Louise sangat cerdas. Di kelasnya, ia satu-satunya yang dapat membaca dan menulis. Gurunya menyalahkan ayah Scout karena sudah mengajarinya membaca. "Kau seharusnya belum belajar itu, nak". katanya. Scout menceritakan teman-temannya yang ada di kelas. Salah satunya adalah Walter Cunningham. Walter berasal dari keluarga Cunningham di Maycomb County yang dikenal tidak bisa membayar sesuatu dengan uang, tapi dari hasil panen dari tanah keluarga mereka. Scout berhasil menjelaskan dengan bahasanya sendiri siapa itu keluarga Cunningham di Maycomb County. Itu membuat gurunya, Miss Caroline tersinggung dan menghukumnya.

Akhirnya Scout memukul Walter Cunningham di luar sekolah karena merasa Walter-lah penyebab ia dihukum oleh Miss Caroline. Namun, Walter tidak mendendam. Jem bertindak bijak dengan mengajak Walter makan siang ke rumah keluarga Finch. Seraya mengatakan pada Walter "Ayah kami berteman dengan ayahmu. Scout ini, dia memang gila dia tidak akan mengajakmu berkelahi lagi" (h.51).

Dari sini kelihatan kalau anak-anak tidak membeda-bedakan teman berdasarkan asalnya, status sosial, atau bahkan agama. Kita bisa bandingkan dengan Shmuel dan Bruno di cerita The Boy in the Striped Pajamas, Amir dan Hassan pada cerita The Kite Runner. Ketulusan berteman anak-anak patutlah kita tiru, tidak salah bukan orang dewasapun perlu belajar dari anak-anak.

Prasangka
John Wesley-Pendiri Methodist- mengatakan bahwa “Passion and prejudice govern the world; only under the name of reason.” Prasangka menyebabkan orang akan kehilangan kekritisannya. Tidak berusaha mencari tahu dan membiarkan diri hidup dalam prasangka justru akan membuat hati tidak bersih. Seperti yang diceritakan bahwa Arthur "Boo" Radley tidak pernah keluar rumah. Imajinasi Jem yang diceritakan pada Scout jauh dari kesan bahwa Boo sebenarnya adalah anak yang bersahabat. Sudah ada tanda-tanda sebelumnya bahwa Boo memiliki hati yang baik. Pertama, hadiah-hadiah yang disiapkan di ceruk pohon bagi Jem dan Scout. Kedua, celana Jem yang sudah tergantung dan sudah terjahit dengan rapi di pagar rumah keluarga Radley. Ketiga, diselamatkannya Jem dan Scout ketika pulang dari pesta Halloween.

Suatu permenungan yang mendalam-tentu saja karena pengalaman-ketika Scout mengingat apa kata ayahnya.Atticus benar. Dia pernah berkata, kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya. Hanya berdiri di serambi Radley pun cukup (h.507).

Arthur 'Boo' Radley adalah Mockingbird pertama.

Kebaikan dan Kejahatan
“The battleline between good and evil runs through the heart of every man.” demikian dikatakan oleh Alexander Solzhenitsyn-novelis Rusia. Itulah mengapa kita perlu pengetahuan. Pemahaman akan nilai kebaikan bukanlah sesuatu yang datangnya instan, namun sebuah proses dari budi manusia. Sebagai contoh sisi kebaikan seorang pengasuh pada keluarga Atticus. Cerita tentang Calpurnia yang mendidik Jem dan Scout tentunya tidak semata-mata karena Atticus telah membayarnya sebagai seorang pengasuh. Terlebih dari itu, karena ia mengasihi mereka. Tentunya bukan tugas pengasuh untuk menyuruh Scout menuliskan satu bab alkitab dengan tulisan bersambung (h.41), menarik Scout ke dapur karena Scout memprotes cara makan Walter Cunningham (h.51). Scout membenci hal itu. Namun, sebuah nasihat bijak Atticus pada Scout, "... Pikirkan betapa banyak yang dilakukan Cal untukmu, dan patuhilah perkataannya (h.53).

Sisi lain pada manusia, yaitu kejahatan dicontohkan pada persidangan Tom Robinson. Atticus dengan cerdas sudah mengungkapkan fakta bahwa tidak logis Tom Robinson yang memperkosa Mayella Ewell. Dengan sangat meyakinkan, Atticus memberi pernyataan di muka pengadilan bahwa apa yang terjadi atas diri Mayella adalah akibat kebodohan dan kemelaratan yang kejam (h.369). Tapi seharusnya tidak ada toleransi pada Mayella sebab ia berusaha menutupi bukti pelanggarannya bahkan sampai harus mengenyahkan Tom Robinson, karena kalau Tom Robinson masih ada akan mengingatkannya (Mayella) atas perbuatan memalukan yang dilakukannya. Apa salahnya menggoda seorang laki-laki? yang salah karena ia Mayella menggoda seorang Negro (h.370). Ada apa dengan Negro? Atticus melanjutkan bahwa ada asumsi atau prasangka jahat yang tertanam kuat di orang kulit putih bahwa Negro adalah makhluk tidak bermoral. Attiicus menambahkan bahwa perbuatan jahat maupun ketidakbermoralan adalah milik seluruh manusia, tidak berlaku pada satu ras saja. "Tak ada orang di ruang pengadilan ini yang belum pernah berbohong, yang belum pernah berbuat amoral, dan tak ada lelaki hidup yang tak pernah memandang seorang perempuan dengan hasrat" (h.370).

Pengadilan yang bersistem juri itu memutuskan lain. Seperti sudah tradisi, tidak ada juri yang membela kulit hitam. Ketika Hakim Taylor menerima secarik kertas yang berisi putusan juri, isinya:"Bersalah...bersalah...bersalah...bersalah...bersalah..."(h.383).

Namun, keluarga Tom yang Negro adalah orang yang tahu berterimakasih. Atticus dikirimi berbagai macam makanan ke rumahnya. Tidak seperti Bob Ewell, ia malah mengancam akan membunuh Atticus sampai kapanpun. Bob Ewell digambarkan sebagai orang pemalas, pemabuk, memakan uang asuransi, menelantarkan anak, seorang kidal (yang di pengadilan dibuktikan oleh Atticus bahwa dialah yang memukul Mayella), dan seorang (calon) pembunuh anak-anak Finch.

Tom Robinson akhirnya mati karena ia ditembak saat mencoba melarikan diri dari penjara. Tom Robinson adalah Mockingbird kedua.

Pentingnya Pendidikan
Salah satu keunggulan Atticus Finch ialah ia mendidik anaknya. Pendidikan adalah kunci untuk membuka kebodohan termasuk prasangka. Selepas waktu bekerja sebagai pengacara, ia bersama dengan Scout akan membaca artikel koran. Untuk Jem, ia membelikan majalah kesukaannya, Football. Apa sarananya? membaca dan bertanya. Scout dan Jem sering terlibat diskusi atau perdebatan, dan yang menjadi tempat bertanya terakhir adalah ayah mereka. Aku dan Jem sudah terbiasa dengan diksi ayah kami yang lebih cocok diterapkan pada surat wasiat, dan kami bebas menyela Attiicus kapanpun untuk memintanya menjelaskan kata-kata itu kalau ucapannya tak kami mengerti (h. 69)

Jika seorang Jem adalah anak biasa yang tidak terbekali dengan baik dengan apa yang terjadi di pengadilan, tentunya ia tidak akan marah ketika keputusan juri tidak berpihak pada Tom Robinson dalam hal ini Atticus sebagai pengacaranya. Pengalaman adalah guru terbaik. Jem benar-benar kecewa. Ia tadinya menganggap, bahwa orang-orang Maycomb adalah orang (yang kelihatannya) terbaik di dunia, namun tidak adanya yang membela Tom selain Atticus di kota itu. Mungkin terlalu berani seorang anak usia 12 tahun mengucapkan satu kalimat cerdas untuk merespon kalimat Miss Maudie yang pesimis; "Bicara memang gampang, tak bisakah hakim dan pengacara Kristen mengimbangi juri kafir? Kalau aku sudah dewasa? (h.392).

Hal serupa disampaikan oleh Jem kepada adiknya bahwa setiap orang harus belajar. Bahwa tidak ada manusia yang dari lahir sudah bisa membaca, ia mencontohkan kalaupun Walter tidak naik kelas itu karena ia harus membolos untuk bekerja dan membantu ayahnya.

Pendidikan yang baik setidaknya berasal dari rumah. Begitu yang dicontohkan oleh Atticus dan Calpurnia. Atticus mengajari Jem dan Scout membaca termasuk menghormati orang lain. Sejak ibu mereka meninggal, praktis yang mengasuh Jem dan Scout adalah Calpurnia. Calpurnia mendidik kedua kakak beradik tersebut seperti anaknya sendiri. Walaupun Calpurnia dari golongan Nigger, Atticus tidak berkeberatan. Suatu peristiwa dimana Scout berkomentar karena cara makan Walter tidak berkenan, Calipurnia menegurnya: "...Kalian mungkin memang lebih baik dari keluarga Cunningham, tapi kau tak ada artinya kalau mempermalukan mereka seperti itu..." (Hlm 57).

Fiksi yang Nonfiksi
Walau novel ini adalah cerita fiksi, namun tidak sepenuhnya tokoh dan tempat yang diceritakannya adalah khayalan. Maycomb, kota tempat ceritanya novel ini merepresentasikan kota Monroeville, Alabama, tempat Harper Lee tinggal. Jean Scout Louise yang berusia 6 tahun mewakili Lee yang lahir tahun 1926. Di kotanya, Lee memiliki tetangga yang dengan keluarga Radley, yakni keluarga Boulars, memiliki seorang anak yang hanya berdiam di rumah, yaitu Sonny Boular.

Ayah Lee, adalah seorang pengacara sama seperti Atticus Finch. Karakter Scout yang cerdas, usil, tomboy, sama dengan Lee. Lee menulis novel ini dalam kurun waktu 8 tahun, mungkin ia sudah melakukan riset yang sangat dalam untuk menulis novel ini, sekaligus mungkin enggan menulis novel berikutnya karena ia harus riset lagi minimal 8 tahun (soktau.com). Penggambaran paling jelas tokoh Dill dalam Novel ini adalah teman kecil Lee yaitu Truman Capote. Truman Capote juga seorang penulis novel. Ia menggambarkan Lee sebagai cewek yang tomboy, Idabel, dalam novelnya Other Voices, Other Rooms. Sementara Truman Capote digambarkan sebagai Dill oleh Lee dalam To Kill a Mockingbird. Wow...Intinya Lee dan Capote adalah teman baik.

Pada 25 Maret 1931, 9 orang negro ditangkap di Scoottsboro, Alabama karena dituduh memperkosa dua orang wanita kulit putih di kereta api. Kedua wanita itu, Victoria Price dan Ruby Bates berbohong karena menghindari akan ditangkap dan dipenjarakan. Seperti yang ditulis di novel ini bahwa kejahatan terbesar di Alabama adalah perkosaan. Dan semua terdakwa yang terbukti akan mendapat hukuman mati. Sama seperti Tom Robinson, 1 orang dari 9 negro itu memiliki kecacatan fisik, 1 lagi buta. Sepertinya mustahil untuk memperkosa dua wanita tersebut dan melarikan diri.

Pengacara seperti Atticus yang membela 9 orang itu adalah Samuel Liebowitz, dan hakim yang memimpin persidangan Scoottsboro adalah Hakim James E. Horton. Hakim ini mengesampingkan vonis bersalah dan itu menyebabkan ia tidak dipilih lagi sebagai hakim pada tahun selanjutnya. Ucapan Horton yang menutup persidangan adalah sebagai berikut:
History, sacred, and profane, and the common experience of mankind teach us that women of the character shown in this case are prone for selfish reasons to make false accusations of both rape and insult upon the slightest provocation, or even without provocation for ulterior purposes.

Sejarah kelam umat manusia yang dengan tega mengorbankan sesamanya dengan alasan warna kulit, adalah kekejaman terbesar. Harper Lee dengan tepat menuliskan novel ini,sebab akibat kesalahan masa lalu berupa prasangka dan kebodohan menyebabkan satu atau lebih mockingbird terbunuh.

Novel ini sangat bagus untuk dibaca. Bagi orangtua yang menyarankan pada anaknya untuk membaca novel ini, harap siap-siap ditanya istilah seperti perkosaan, negro, rasis, dan sebagainya. Apalagi setelah membaca novel ini diikuti dengan menonton filmnya, akan lebih terasa lagi kalau novel maupun filmnya membawa pesan maupun nilai yang memperkaya cara pandang kita.

description

@hws28022011


Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga
saat ini yang namanya Go Green sedang ngetrend. Bukan karena mau ikut-ikutan, tapi pada dasarnya karena keinginan untuk mengubah perilaku agar lebih menghargai dan memerhatikan lingkungan.

Kalau ditanya, apa untungnya sih orang Indonesia ikut-ikutan program seperti ini? bukankah yang pertama kali dan yang paling banyak merusak bumi ini adalah orang dari Barat sana? betul, tapi jangan lupa bahwa Indonesia menjadi negara potensial yang akan merusak lingkungan jika saja penduduknya semakin tidak terkendali. Sekarang saja dengan penduduk sekitar 220 juta apakah terjamin memiliki perilaku peduli terhadap lingkungan? saya tidak yakin. Tidak usah jauh. Bapak saya sendiri aja masih suka buang sampah plastik permen ke luar jendela mobil. Yah intinya, mengubah perilaku orang itu sulit. Sama dengan memberantas korupsi, kalau udah terbiasa, sudah balikin kebiasaannya. Tapi bagaimanapun, fakta menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan sudah sangat parah. Seberapa banyak sih peran pemerintah untuk memberikan edukasi pada rakyatnya? saya agak pesimis program itu cukup besar dan signifikan. Mari kita dukung dengan hal-hal yang sederhana saja dulu, misalnya:
1. membawa sendiri kantung plastik atau tas plastik jika berbelanja ke carefour/giant/hypermart.
2. jika tak banyak-banyak amat, tak perlu meminta kantung plastik kalau membeli pasta gigi, sabun mandi, sampo ke alfamart/indomaret, cukup ditenteng aja atau masukin ke tas.
3. Jika memungkinkan, sediakan satu tempat khusus untuk kertas bekas. Kertas bekas adalah kertas yang sudah diprint bagian sebelahnya, kita bisa gunakan bagian satu lagi untuk mencetak artikel-artikel yang kita inginkan.
4. Bijak menggunakan air. Penggunaan shower untuk mandi sangat mengefisienkan jumlah air. disamping itu, jangan tunda memperbaiki keran yang bocor karena banyak air yang terbuang disamping tagihan air yang mahal.
5. Sedapat mungkin gunakan alat listrik yang hemat energi. Pastikan tidak ada yang menyala tanpa digunakan.
6. Isi sendiri
Helvry Sinaga
ISBN: 978-979-024-073-5
Halaman: 236Bookpaper
Ukuran: 13 x 20,5 cm
Terbit: November 2010
Penerbit: Serambi
Pengarang: Tahar Ben Jeloun


Korupsi bukan istilah baru bagi kita. Di belahan dunia manapun tidak bebbas dari korupsi. Hanya tingkat nya tinggi, sedang, ringan, atau bebas korupsi. Buku ini seolah cerminan negara kita, sama-sama negara berkembang, sama sama bekas jajahan negara Eropa. Tapi ada yang berbeda. Mereka dipimpin oleh raja yang pintar. Sebelum kita mengenal tokoh-tokoh maupun cerita dalam buku ini, mari kita intip sekilas data-data tentang Maroko.

Hari Kemerdekaan : 2 Maret 1956 (dari Perancis)
Sistem Hukum : berdasarkan Hukum Islam dan Perancis dan
Sistem hukum sipil Spanyol.
Kepala Negara : King Mohammed VI (Sejak 30 Juli 1999)
Kepala Pemerintahan : Perdana Menteri Abbas El Fassi (Sejak 19 September 2007)

Maroko terletak di utara Afrika, masih terdapat sengketa daerah Sahara Barat dimana antara Maroko dan Sahrawi Arab Democratic Republic (yang berkantor di Algeria) masih belum sepakat mengenai status wilayah itu. sementara itu, menurut situs www.cia.gov, Maroko merupakan point transit penjualan kokain yang berasal dari Amerika Selatan yang ditujukan ke Eropa Barat.

Kembali ke buku ini, menceritakan seorang pegawai negeri yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum Maroko. Namanya Murad. Posisinya cukup berpengaruh, ia menjabat sebagai Wakil Direktur Perencanaan dan Pembinaan. Ia cukup terdidik. Ia memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Universitas Mohamed V di Rabat, serta gelar insiyur dari sekolah di Perancis.

Jabatannya sangat penting dan diincar orang. Ia mempelajari berkas proyek dan jika ia menyetujui, ia akan memberi paraf. Tanpa parafnya, tak ada izin membangun. Pilihan hidupnya untuk tidak menerima amplop atau sejenisnya dari pihak rekanan, ternyata memiliki konsekuensi yang besar. Gajinya yang kecil, ia alokasikan untuk membiayai hidup bersama istri dan kedua anaknya. Tak cukup dengan gajinya, ia pun berutang dengan pemilik warung. Istrinya, Hilma, terus memprotes Murad. Bahkan Hilma mengina Murad dengan mengatakan bahwa Murad bukanlah laki-laki sejati.

Sebenarnya dengan latar belakang Murad yang berpendidikan sarjana ekonomi dan insinyur, merupakan nilai tambah untuk pilihan hidup yang lebih baik. Ia sebenarnya dapat menjadi Akuntan di perusahaan besar. Namun, mungkin Ben Jelloun ingin tampaknya memberi nuansa pada cerita ini dimana mencari pekerjaan tanpa melibatkan orang dalam adalah sesuatu hal yang hampir mustahil. Murad pun 'terjebak' dengan pilihannya sebagai pegawai negeri. Keluarga baru terbentuk. Anak-anak bertambah besar, kebutuhan keluarga meningkat seiring dengan deret hitung, sementara pertambahan gaji mengikuti deret ukur.

Konflik besar terjadi. Antara Hilma dan Murad sudah tak terjalin lagi cinta. Yang muncul dalam rumah tangga mereka lebih sering pertengkaran. Dan parahnya, Hilma menyerang Murad dengan kata-kata, yang lebih tepat penghinaan, "kamu seperti bapakmu!" (Hlm 54). Bagi Murad, harga dirinya sebagai laki-laki betul-betul pada titik nadir. Konflik rumah tangga ini menarik bila kita kaitkan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Shaunti Feldhan (dalam For Women only, 2004), yang menyimpulkan: banyak lelaki akan lebih memilih untuk tidak dicintai, daripada tidak dihormati. Berkebalikan dengan perempuan, justru dalam benak perempuan rasa dihormati bukanlah sesuatu yang terlalu penting jika dibandingkan dengan rasa dicintai dan diperhatikan.

Apa yang dialami oleh keluarga Murad, saya yakin banyak terjadi juga di Indonesia. Jika kita bertanya, mengapa ada korupsi? tersedia banyak jawaban. Saya kutip dari buku "Korupsi Mengorupsi Indonesia" (2010) tulisan "Memahami Korupsi" sebagai berikut.

Menurut Arvin K Jain, "Corruption: A Review", Concordia University, Journal of Economics Survei, Vol.15 No.1, 2001. Korupsi terjadi jika tiga hal terpenuhi, yaitu:

1) Seseorang memiliki kekuasaan termasuk untuk menentukan kebijakan publik dan melakukan administrasi kebijakan tersebut,
2) Adanya economics rents, yaitu manfaat ekonomi yang ada sebagai akibat kebijakan publik tersebut, dan
3) Sistem yang ada membuka peluang terjadinya pelanggaran oleh pejabat publik yang bersangkutan.


terlepas dari aspek di atas, masih banyak penyebabnya. Entah karena harga diri atau karena membandingkan diri dengan kehidupan rekan sejawat yang hidupnya berkelimpahan harta. Maka tak heran, kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan. Orang-orang seperti senior maupun rekan kerjanya turut berkontribusi membuat Gayus ikut "meniru" perilaku tersebut.

Apa langkah yang selanjutnya yang diambil oleh Murad adalah membiarkan dirinya pada pilihan-pilihan yang dilema itu. Antara menerima dan tidak amplop yang disisipkan di berkas, meninggalkan Hilma serta berpaling kepada Nadia, sepupunya, atau pergi meninggalkan semuanya? Mungkin sisi karakter laki-laki inilah yang hendak ditonjolkan oleh Ben Jelloun. Betul bahwa buku ini adalah semacam tribute pada Pramoedya Ananta Toer yang juga menerbitkan buku serupa, namun konflik tokoh di dalamnya jauh menurut saya lebih menarik didalami daripada korupsinya itu sendiri. Sebab korupsi sendiri adalah deviasi dari kemurnian, kejujuran, keadilan dan ketulusan manusia.

Ada sebuah disertasi yang membahas karakter laki-laki dan perempuan pada novel yang berjudul asli "L'Homme rompu" ini. Namun sayangnya, saya tidak berhasil mendapatkan softcopynya. Judul lengkapnya adalah Male-female relations in Tahar Ben Jelloun's "L'Homme rompu" and "La Nuit de l'erreur" oleh Shonu Nangia, Wayne State University.

Sosok Ben Jelloun juga masih baru bagi saya. Masih ada novel karangan beliau yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya pernah lihat covernya di web, tapi susah menemukannya kembali. Menurut saya, karya Ben Jelloun ini layak mendapat perhatian, mungkin karya beliau yang lain perlu juga dibawa ke Indonesia agar kita pun tahu cerita di dunia sana, seperti pada penutup kata pengantarnya: Cerita yang sepintas sama tetapi sesungguhnya berbeda ini, baik secara lokal maupun universal, adalah hal yang mendekatkan kami. Ya, kami, para pengarang dari Selatan, meskipun wilayah Selatan ini berada di timur jauh.

Ben Jelloun lahir di Maroko pada 1944. "Ibu saya buta huruf Ayah tahu cara membaca tapi. adalah seorang penjaga toko. Kami memiliki kehidupan yang sangat sederhana, tanpa musik atau buku, kecuali Al Qur'an." katanya.

Ia belajar filsafat di universitas Rabat, dan, setelah dibebaskan dari kamp militer di Ahermemon tahun 1968, ia mengajar selama tiga tahun di sekolah di Tetuan dan Casablanca, sebelum pemerintah memutuskan bahwa filsafat dapat diajarkan hanya dalam bahasa Arab klasik. Pada tahun yang sama, 1971, souffle jurnal sastra, yang ia tulis, dilarang, dan ia berangkat ke Perancis.

Di Paris dia meraih gelar doktor dalam psikiatri sosial, meneliti impotensi seksual di kalangan migran Afrika utara di rumah sakit. "Saya bukan dokter, taorang kepercayaan, "kata dia. "Luka-luka migrasi memukul saya di wajah:.. laki-laki yang hancur secara psikologis. aku pikir, seksualitas naluriah atau alami, tapi itu sangat terkait dengan perlindungan dalam dan konteks budaya." (sumber: http://www.guardian.co.uk/books/2006/may/06/featuresreviews.guardianreview27)

@hws27012011
Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga

ini ngambilnya dengan kecepatan rendah, trus kameranya diputer-puter, jadinya seperti begini. Lucu yaaa...
Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga
kemarin saya mengalami hal serupa juga. Ketika saya melihat indikator bensin di sepeda motor sudah pada bar 1, saya memutuskan untuk mengisi bensin. Akhir-akhir ini, jarak tempuh saya makin jauh saja. Jadi, mengisi bensin yang cuma 3 liter lebih sedikit pada sepeda motor saya agak lebih sering frekuensinya.

Pilihannya pada saat itu adalah beli pertamax atau tinggalkan lokasi SPBU. Saya tidak mau berpikir panjang lagi untuk mencari dimana lagi SPBU terdekat. Saya mengisi Pertamax sebanyak 10.ooo rupiah. Ternyata memang beda pakai pertamax. Saya merasa tarikan mesinnya lebih mulus. Tapi dipikir-pikir, mahal juga. Untuk Premium seliternya sebesar Rp4.500, sedangkan Pertamax seliternya Rp6.700. Saya mengisi sekitar 5 liter seminggu. Tinggal dihitung saja berapa selisihnya. Kadang saya berpikir kenapa transportasi di Jakarta ini mahal sekali? Jika naik kereta atau transportasi massal yang lain, kok nggak nyaman dan aman? pertanyaan besar yang pastinya sudah diketahui oleh pemerintah negeri ini, tapi kok nggak jalan-jalan sih? seperti kemuakan pada pelayanan publik sudah mulai akut parah.

tapi tanggung jawab kita sebagai penghuni bumi juga harus dilakukan. Paling tidak menghemat energi yang tersedia ini supaya ada warisan bagi penghuni bumi selanjutnya. mari berhemat.