Helvry Sinaga
Judul: Malam di Kota Merah
Pengarang: Toni Lesmana

Bersudut pandang seorang yang ditodong oleh perampok di suatu tempat, dimana ternyata sang perampok belum mahir menggunakan pisau sebagai alat bantu rampok.
Pisau itu akhirnya menancap di kening sang pemuda, dan pemuda itu membawa pisau yang tertancap itu kemana-mana.

Orang-orang menjadi takut melihatnya sebab darah begitu banyak keluar dari kepalanya, namun tidak ada yang berusaha mengobatinya.
Si pemuda tidak rela mati begitu saja karena pisau itu, ia ingin mati dalam kebahagiaan, mati karena rindu yang mendalam pada kekasih, dan menghadap Tuhan dalam keadaan hidup.

Apakah karena cerita ini bersastra tinggi, saya tak mampu mencernanya dengan baik. Kelihatannya si tokoh utama sangat gelisah. Peristiwa perampokan yang berujung pada penikaman, adalah pemicu dari konflik yang terjadi dalam dirinya. Tokoh utama sangat kesepian, bahkan di kota yang ramai seperti Kota Merah. Apakah mungkin sebuah kritikan pada kota metropolitan yang sudah kehilangan toleransi pada sesama yang tertindas? atau menggambarkan sebuah kepasrahan yang membuat akal sehat menjadi hilang?

Mungkin saja....
@hws16112011

0 Responses

Post a Comment