Helvry Sinaga

Dosen Tak (Boleh) Hanya Mengajar

Oleh: Elisabeth Rukmini 2 Komentar FacebookTwitter  
TERTIDUR di ruang kuliah bagi mahasiswa sudah hal lumrah. Dua hari yang lalu saya melihat mahasiswa saya tertidur nyenyak telentang di lantai seperti sangat kelelahan dan tak menyadari bahwa kuliah sudah dimulai. 
  Saya terus saja kuliah dengan prinsip mahasiswa adalah pembelajar yang telah dewasa sehingga jika pilihannya adalah tidur di ruang kuliah, silakan dengan merdeka memilih hal itu.
Meski demikian, saya merasa tertampar sebagai dosen, rupanya kuliah saya sudah tidak bermakna lagi sehingga ada pilihan lain yang lebih bermakna: bisa tidur, bisa juga melakukan aktivitas lain. Sang mahasiswa dibangunkan oleh teman di dekatnya ketika dalam sela-sela perkuliahan saya mengeluarkan soal untuk kuis interaktif.
 
Nilai nominal Belakangan saya lebih merasa bersalah lagi sebab tidak membangunkan mahasiswa saya sebelum memulai perkuliahan. Sang mahasiswa ini saya ajak berbincang selesai kelas. Saya selidiki mengapa ia tidur. Menurut dia, kelelahan adalah penyebab utamanya. Ia katakan telah tidur sebelum saya tiba di kelas. Mengapa ketika ada kuis interaktif mahasiswa lain membangunkan dia?

Makin tertempelaklah saya, sebab ini berarti para mahasiswa hanya mendambakan nilai kuis. Sekali lagi, kuliah saya tidak dibutuhkan. Ada yang lebih bermakna: nilai nominal.
Cerita orang yang lebih tua dan meskipun berpengalaman ternyata tak lagi superior dalam proses pembelajaran. Salah satu bukti nyata dan kuat mengapa dosen tak lagi boleh hanya mengajar di depan kelas. Maka kesadaran untuk paradigma unsuperiority terutama berkaitan dengan sumber pembelajaran jelas amat penting.
Kemarin, saya ceritakan pengalaman di atas kepada beberapa mahasiswa di fakultas lain tempat saya berkarya. Para mahasiswa ini malah menambah lagi rasa bersalah saya dengan timbunan cerita yang bermuara dan berhilir pada masalah yang sama: dosen tak boleh hanya mengajar di depan kelas.

Begini ceritanya; ada beberapa dosen yang sering marah saat memberi kuliah gara-gara para mahasiswanya mengobrol. Di antara dosen-dosen ini, salah satunya mengusir mahasiswa dari ruang kelasnya. Para mahasiswa pencerita ini bahkan punya nama khusus di kalangan mereka untuk dosen pengusir mahasiswa.
Bukan merasa bersalah, para mahasiswa yang terusir justru merasa lega sebab berhasil secara sah keluar dari kelas sang dosen. Mengapa demikian? Jawab mereka karena materi kuliah yang diberikan oleh sang dosen tidak ada yang baru, dan infonya dapat diakses dengan mudah di tempat lain. Mengapa harus memboroskan waktu mendengar sang dosen yang superfisial?
 
Akses materi kuliah Para mahasiswa ini bahkan menunjukkan kepada saya dari mana bahan-bahan yang lebih update dan lebih bermakna dapat mereka peroleh ketimbang dari sang dosen. Lebih unik lagi dengan kecepatan   bandwidth internet, mereka sebarkan bahan itu melalui group mereka, tentu saja minus akunnya dosen.
Tidakkah kita menutup mata jika hanya menganggap mahasiswa belajar dengan cara dosennya belajar? Pada zaman yang percepatan dan kecepatan kemajuan teknologinya berbeda? Pada masa yang perkembangan sosial budaya juga berbeda? Unik sungguh profesi dosen (dan guru). Tuntutan mengajar yang 10-20 tahun lalu tepat sasaran kini sudah amat kuno. Baheula.

Perlu dan harus berubah. Mahasiswa membutuhkan teman sejawat, yang menilai dengan kritis apa sumber-sumber belajar mereka, yang menyarankan berbagai sumber belajar yang lebih absah, variatif, bermakna.
Pilihan superiority tidak ada lagi. Dosen (dan guru) tak ada pilihan lain, harus berani merelakan sembilan puluh persen waktu kuliahnya untuk mendengar, berargumentasi mendorong lahirnya pertanyaan; singkat kata: membuat pusat pembelajaran adalah sang pembelajar (student-centered learning).
 
Salah paham Ada kesalahpahaman para dosen (dan guru) ketika pusat pembelajaran adalah siswa, bukan berarti dosen mengalihkan tugasnya kepada mahasiswa. Betapa sulitnya membagikan ide berbasis bukti bahwa student-centered learning (SCL) telah menggeser peran dosen sebagai pengajar tunggal di depan kelas, sebagai sumber, menjadi peran yang setara, menyediakan diri mengelola (facilitating) proses pembelajaran.
Betapa sulitnya meyakinkan para dosen bahwa tugas dosen dalam SCL bermula dari desain pembelajaran dan berakhir hingga evaluasi proses. Jalan panjang dan berliku ini jelaslah berbeda dengan proses dosen mengajar secara pasif di depan kelas (traditional teaching) dengan persiapan pribadi secukupnya (mayoritas persiapan bahan materi kajian).

SCL menuntut persiapan matang tak hanya pada materi kajian saja, tetapi termasuk di dalamnya kemungkinan respons-respons mahasiswa yang bisa saja tidak terduga.
Kedua, implementasi SCL jelaslah berbeda dan amat
beragam, sementara implementasi
traditional teaching cukup semacam saja. Peristiwa tak terduga hampir tidak ada pada implementasi traditional teaching.
 
Evaluasi proses Asesmen penguasaan materi kajian juga berbeda, perlu desain lagi. Pertanyaan esai yang hanya satu baris diawali dengan kata: sebutkan, jelaskan, apa, mengapa dan bagaimana sudah tidak memadai lagi pada penilaian metode SCL. Produk penilaian sangat besar pada proses formatif lebih perlu masukan dari dosen.
Terakhir, evaluasi proses jelas sangat berbeda karena lini persiapan, implementasi, dan asesmen yang beragam dan amat berbeda. Siapkah dosen (dan guru) kita? Jelaslah dosen yang hanya mengajar (traditional teaching) tak perlu heran mengapa mahasiswa memilih dikeluarkan dari kelasnya.
Setelah bicara mengenai dosen (dan guru) yang tidak hanya mengajar (traditional teaching), pertanyaan krusial berikutnya siapkah lembaga pendidikan menilai kinerja dosen (dan guru) kita yang tidak hanya mengajar?
 
Elizabeth Rukmini, Pengajar Unika Atma Jaya Jakarta




Labels: | edit post
0 Responses

Post a Comment