Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Helvry Sinaga


Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata
Putu Fajar Arcana

Penyair selalu menempuh jalan sunyi dengan misi suci. Sunyilah yang menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan yang dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas.

Umbu Wulang Landu Paranggi (69) masih seperti dulu. Cuma dalam dua pertemuan akhir Oktober 2012 di Denpasar, ia tampak lebih kurus. Tetapi, jelas, riak-riak kreativitas dan simpanan energi di dalam dirinya seperti empasan ombak Pantai Sindu, Sanur, tempat kami bertemu.

Umbu memilih Pantai Sanur bukan tanpa alasan. Cuaca malam hari di Sanur selalu penuh misteri. Gerak pepohonan, lorong-lorong desa, derit rumpun bambu, kunang-kunang di belukar liar, serta kerlap-kerlip bintang di kejauhan seakan berpadu dengan gemuruh ombak sepanjang pantai. ”Sanur masih saja mistis…,” kata penyair yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdikan dirinya pada puisi.
Helvry Sinaga
Lantangnya Si "Jangan Bicara"
Aryo Wisanggeni

Terlahir sebagai anak petani, putus sekolah pada usia 12 tahun, meraih Nobel Sastra pada usia 57. Hidupnya penuh kontroversi. Dikritik aktivis hak asasi manusia karena dianggap dekat dengan Partai Komunis China, Mo Yan yang artinya ’jangan bicara’ juga pernah dituding subversif karena kritik sosial tajam pada karya-karyanya.

”Seorang penulis haruslah menyampaikan kritik dan kegelisahannya atas sisi gelap masyarakat dan keburukan sifat manusia,” ujar Mo Yan saat berbicara pada Frankfurt Book Fair 2009. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana dan seperti apa karya Mo.

Mo seperti muncul sebagai sebuah kejutan di tengah spekulasi siapa penerima Nobel Sastra 2012. Akademi Swedia, sebagai lembaga yang menyeleksi penerima Nobel Sastra, selalu merahasiakan siapa yang menjadi nomine pemenang. Itu sebabnya setiap perhelatan Nobel selalu memunculkan spekulasi, bahkan taruhan.

Mo Yan menjadi warga negara China pertama dan orang China kedua yang meraih Nobel Sastra. Sastrawan kelahiran China dan berkewarganegaraan Perancis, Gao Xingjian, meraih penghargaan yang sama pada 2000. Kisah hidup Mo memang berbeda dari pendahulunya itu.
Helvry Sinaga

Setelah menunggu semalaman, kira-kira pukul 10.00 Wita di awal Juli 2012 lalu, Arie Smit membuka pintu. Ia keluar dari dalam bilik sisi kiri, di utara kolam renang Villa Sanggingan, Ubud, Bali, dibantu sebuah kruk. Pelan-pelan ia geser kakinya sebelum melemparkan tubuhnya yang besar di sebuah ”velbed” di beranda. Pelukis berdarah Belanda itu kini berusia 96 tahun!

Dari lantai dua sebuah cottage di lokasi yang sama, di mana saya menginap, terlihat Arie meregangkan tubuhnya beberapa saat. Tak sampai 5 menit ia masuk kembali ke dalam bilik. Kain pantai pembalut tubuhnya tertinggal di atas velbed. Pagi itu ia hanya mengenakan t-shirt yang dibungkus jaket lusuh, serta topi wol yang warnanya sudah pudar. Harapan untuk bisa bertemu sepertinya tipis. Sejak dulu Arie Smit sangat selektif menerima para tamu. Ia tidak terlampau menyukai keramaian.
Helvry Sinaga

TUGAS KEMANUSIAAN
Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy


Manusia adalah fenomena ajaib. Jika keajaiban itu dieksplorasi maksimal, akan tercipta apa yang dikategori sebagai mukjizat. Namun, meski semua manusia memiliki potensi sama, hanya sedikit yang menyadarinya. Sebagian besar lainnya menyerah di sandaran ”nasib”.

Satu dari sangat sedikit orang yang menyadari potensi dan keajaiban itu adalah budayawan Radhar Panca Dahana (47). Dengan 20 penyakit permanen stadium akut yang muncul setelah cuci darah tiga kali seminggu, 11 tahun terakhir, Radhar terus berkarya. Ia bahkan sangat produktif di puncak-puncak kesakitannya.

”Setiap hari, enam dari 20 penyakit itu, gejalanya keluar,” ujar Radhar. Seluruh bagian tubuh diganggu oleh kehadiran penyakit ikutan itu, termasuk panca indranya. ”Kalau saya diam, sebagian keluar. Begitu keluar, saya tahu metabolisme saya akan bekerja dengan cara yang berbeda. Jadi, saya tak bisa membiarkan diri saya tidak aktif karena metabolismenya pun akan menyusut.”
Helvry Sinaga

DIPERKAYA DAN MEMPERKAYA
Maria Hartiningsih & Myrna Ratna


Pengalaman khas dan berbeda yang dibagi dalam komunikasi terbuka dan kesalingan belajar akan saling memperkaya identitas individu religius.

Syafaatun Almirzanah PhD (49) menghidupi setiap pengalaman perjumpaan sebagai cahaya yang memperkaya jiwa untuk menuju kepada Yang Satu. Melalui perjalanan panjang, ia meyakini, hanya dalam komunikasi yang terbuka dan dialog mendalam dengan kerendahan hati, dimungkinkan perjumpaan untuk saling memperkaya dan diperkaya.

Itu sebabnya, ”Pengalaman bergaul dengan orang lain sangat penting dalam hidup,” ujar intelektual serta pakar kajian Islam dan kajian agama-agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.
Helvry Sinaga

Remy Sylado (67) seperti tak pernah berhenti.

Ia menghasilkan tak kurang dari 300-an karya, yang ia harap memberi pengharapan dan penghiburan kepada pembaca. ”Kalau sekadar senang sendiri, itu bukan hiburan. Dan hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur,” katanya.

Remy memiliki wawasan kepenulisan yang sangat lebar. Bukan hanya novel dan puisi, ia kini juga tengah menyiapkan buku 123 ayat tentang kesenian. Ia menulis tentang sastra, seni rupa, musik, film, dan teater. Ia bahkan pernah menulis tentang teologi, kamus, dan ensiklopedia.

Dalam setahun, Remy menghasilkan dua sampai tiga novel.

Dalam satu ruang dan waktu, Remy bisa bekerja simultan menggarap tiga novel sekaligus. Untuk itu, dia bekerja menggunakan tiga mesin tik yang berbeda. ”Selalu pakai mesin tik dan tip-eks, ha-ha...,” kata Remy di rumahnya di Cikarawang, Dramaga, Bogor, Juni lalu.

Labels: 0 comments | | edit post
Helvry Sinaga


KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Upaya memanusiakan dan mengangkat martabat orang miskin tak cukup dengan khotbah di gereja. Charles Patrick Edward Burrows OMI atau Romo Carolus (70) membumikan teologi inklusif dengan karya pastoral secara nyata di tengah masyarakat miskin dan termiskin selama 38 tahun lebih. Maria Hartiningsih
Romo Carolus menyampaikan keutamaan spiritualitas untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin tanpa memandang latar belakang agama, suku, etnis, gender, atau apa pun.
”Mereka adalah saudara saya, apa pun latar belakangnya. Lewat mereka saya bertemu Tuhan,” ujarnya, ketika ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. ”Saya mau fokus mencintai, bukan sesama Katolik, tetapi sesama manusia.”
Romo Carolus bersama Ahmad Bahruddin (47) dari Salatiga, Jawa Tengah, pendiri Paguyuban Serikat Petani Qoryah Thayyibah, pendiri serta pengasuh Kelompok Belajar Qoryah Thayyibah, dianugerahi Maarif Award for Humanity 2012.
Penghargaan yang diprakarsai Maarif Institute sejak tahun 2007 itu terfokus pada inisiatif-inisiatif pemimpin nonformal di tingkat lokal yang secara nyata dan konsisten berkarya untuk sesama dalam semangat kebinekaan, keterbukaan, dan kebersamaan.

Labels: 0 comments | | edit post