Helvry Sinaga
Posted on March 29, 2011 by bukunya

by Okta Wiguna

Kerongkongan saya baru saja dimanjakan tegukan pertama ice cappuccino seorang kawan menyodorkan buku yang ditulis teman dekatnya. Tujuan pertemuan kami di sore itu memang buku yang berisi kisah perjalanan di mancanegara itu.

Kawan itu menyampaikan harapan penulis buku agar bisa mendapat kesempatan diresensi. “Cuma bisa meneruskan ya, tidak bisa janji akan dimuat,” kata saya. “Tidak apa-apa, dicoba saja,” jawabnya.

Buku itu memang terbilang unik dari segi isi, tapi desain sampulnya memang tak mendukung bahkan penulisnya sendiri tak terlalu menyukainya. Si penulis juga terbilang mau berkeringat. Berkeliling ke toko buku melihat bukunya, mengadakan kuis di akun Twitter sendiri dan juga lewat akun penerbitnya. Mati-matian dia berusaha agar bukunya itu terus hidup.

Helvry Sinaga
Lagi musim menurunkan pemimpin di Timur Tengah. Zine el-Abidine Ben Ali di Tunisia, Hosni Mubarak di Mesir, Muammar Khadafi di Libya. Seperti diketahui, rakyat menuntut agar pemimpin yang sudah lama duduk di puncak tertinggi pemerintahan di negara itu untuk bersedia diganti dengan pemimpin baru.

Apa kira-kira penyebabnya? tidak bisa dipungkiri, akibat perkembangan teknologi informasi yang luar biasa tidak dapat membendung informasi luar yang masuk ke negara mereka. Saya bertemu dengan seorang sejarawan yang mengatakan bahwa satu kebodohan yang dilakukan oleh penguasa orde baru adalah dengan menguasai sejarah. Mereka melegitimasi sejarah yang direkayasa demi kepentingan si bapak yang suka tersenyum itu. Dulu tidak ada namanya internet, majalah atau buku yang mengabarkan informasi yang dinilai menentang pemerintah, disikat habis. Pemerintah menguasai informasi dengan ketat lewat Departemen Penerangan-nya yang hebat itu.

Helvry Sinaga
Judul: Tradisi Telur Merah
Pengarang: Sanie B. Kuncoro
Kompas, 27 Maret 2011

Pesta telur merah dan jahe berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti di negara negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dahulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern pada abad ke 20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa, makanya diadakan sebuat pesta untuk merayakan hal itu. (Sumber dari sini). Satu butir telur untuk penanda bayi perempuan, sepasang telur untuk bayi laki-laki.

Helvry Sinaga
Judul: Mar Beranak di Limas Isa
Pengarang Guntur Alam
Kompas, 20 Maret 2011

Bercerita tentang Bi Maryam yang akrab disapa Bi Mar bersama suaminya Mang Isa. Mereka berdua mengharapkan anak laki-laki, padahal sudah punya 14 anak perempuan yang cantik-cantik.

Bi Mar mengikuti saran tetangganya yang menyuruh Bi Mar untuk mencuri sereket dari kayu milik perempuan yang telah beranak laki-laki dan sereket itu digunakan untuk menanak nasi. Nasi yang lengket di sereket itu dimakan, dan sereket itu ditaruh di bawah kasur kapuk.

Helvry Sinaga
Saya sedang tidak bersemangat membaca sekarang. Kebanyakan baca dokumen laporan dan angka-angka di file excel, membuat agak eneg baca banyak. Masih ada satu bahan lagi yang harus saya baca. Kok masih berasa males yaa. Nggak enak dapat message dari teman kemarin, "Kok nggak ada bau-baunya, kok belum ada belajar-belajarnya?" jiaaaah...tertohok sodara sodara.

memang godaan itu sungguh membuat iman goyang. Kadang kala mengikuti godaaan lebih mengasyikkan...:)

Helvry Sinaga
Di tengah keprihatinan terhadap tidak adanya keseriusan pemerintah terhadap kekayaan literatur Indonesia, saya harap generasi muda tidak demikian. Bisa saja dong ketemuan di perpustakaan atau di toko buku. Tidak mesti di kafe atau mall.
Eh...apalagi seperti begini...Romantis bangetsss....


Helvry Sinaga

Judul: Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka
Judul Asli: Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology
Penyusun: Anthony Reid
Penyunting: Dewi Anggraeni
ISBN13: 9789793731940
xxiv+ 424 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2010

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang yang pernah tinggal di Sumatra. Berbagai laporan, kesan serta kenangan ditulis sebagai warisan yang berharga bagi kita. Ditulis oleh 39 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Penulis terbanyak berasal dari Inggris, yaitu 11 orang. Posisi kedua terbanyak yang berasal dari Portugis dan Belanda masing-masing 5 orang. Posisi ketiga berasal dari Amerika dan Italia, masing-masing 3 orang. Dan dari dalam negeri sendiri, tulisan Tan Malaka serta Muhammad Radjab turut memperkaya kupasan tentang Deli pada awal abad 20. Profesi para penulis ini bermacam-macam. Yang paling banyak adalah sebagai pedagang. Profesi lainnya adalah sebagai wartawan, arkeolog, misionaris, masinis kapal, seniman, pegawai VOC, pegawai EIC, wakil gubernur, pembuat layar kapal, pelancong, ahli bedah, sejarawan, utusan Raja,petualang, penulis, dan sebagainya.

Periode penulisan catatan ini juga berbeda-beda. Tulisan paling awal adalah Sulayman, seorang pedagang Arab yang menceritakan tentang Kerajaan Sriwijaya pada Tahun 851. Periode Abad 13-14 ditulis oleh Marco Polo dan Ibn. Batutta. Abad ke 15 ditulis oleh 5 orang. Abad 17 ditulis 10 orang. Abad 18 oleh 3 orang, abad 19 oleh 10 orang, serta periode abad 20 ditulis oleh 8 orang.

Anthony Reid menyusun tulisan-tulisan tersebut dalam 7 bagian. Bagian Pertama dimulai dengan pendaratan pertama di Asia Tenggara dan diakhiri Bagian Tujuh yaitu Sumatera sebagai Tanah Jajahan dan Keruntuhannya. Jika kita memilah-milah Sumatra dengan provinsi yang ada sekarang, maka provinsi Nanggroe Aceh Darusallam-lah yang paling banyak diceritakan, yaitu 17 tulisan. Selanjutnya Provinsi Sumatra Utara, 11 tulisan, Provinsi Sumatra Barat, 4 tulisan, Provinsi Sumatra Selatan 3 tulisan, Provinsi Bengkulu dan Riau masing-masing 2 tulisan.

Bagaimana orang menyebut Sumatra mula-mula?
Pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib). Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatra sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai (Barus).

Pertanyaan utama ialah, apa yang menarik bagi para orang zaman dulu datang ke Sumatra? Jawabannya: Karena emas. Selain itu, selama abad 16 dan 17, Sumatra menjadi penghasil lada terbesar di pasar internasional. Tidak diketahui bagaimana lada bisa menjadi komoditi utama, namun diduga pedagang dari India yang membawa lada ke Sumatra untuk ditanam sebab sebelumnya sudah berhasil ditanam di Malabar. Selanjutnya Sumatra menjadi koloni yang menguntungkan bagi Belanda karena hasil tanahnya yang diolah dalam perkebunan karet, kelapa sawit, teh, coklat, dan tembakau menjadi komoditas dagang yang paling populer.

Catatan Perjalanan
Dalam buku ini, Orang Eropa yang pertama kali mengunjungi Sumatra adalah Marco Polo. Karena tulisannyalah, akhirnya menyebabkan banyak orang Eropa mendatangi Pulau yang tersohor karena emas dan keindahan alamnya ini. Diperkirakan ia mengunjungi Sumatra pada Tahun 1290an. Selanjutnya diikuti oleh Cornelis de Houtman dari Belanda pada tahun 1596 di Malaka. Pada awalnya orang-orang dari Eropa datang ke Sumatra tujuannya adalah berdagang. Namun tidak hanya perdagangan yang dibawa oleh orang-orang itu, namun juga agama dan budaya. Baik Portugis, Belanda, maupun Inggris tidak ada yang berani menguasai kerajaan-kerajaan (Islam) yang ada di Sumatera. Inggris membuat pangkalan dagang di Bencoleen (Bengkulu) sejak 1700, dan Belanda membuat pangkalan dagang di Padang (sejak 1660an), sedangkan Inggris mendapat keistimewaan berdagang dengan Aceh. Pelayaran berbulan-bulan di laut, masuk dan keluar pelabuhan, kesan pada alam dan orang di daerah baru, membuat salah seorang dari rombongan untuk membuat tulisan perjalanan.

Jalur perdagangan untuk mencapai Sumatra terdiri dari tiga jalur, lewat Selat Malaka, Selat Sunda, atau melewati Semenanjung Malaya. Jalur Selat Malaka menjadi favorit sebab lautnya tidak seganas barat sumatra, komoditas yang diperdagangkan lebih bervariasi seperti lada, kapur barus, kain sutra, emas.

Emas yang disebut-sebut di Sumatra diincar oleh pendatang yang datang ke Minangkabau. Tempat yang diduga banyak mengandung emas ada di daerah Tanah Datar. Thomas Dias, utusan VOC, merasa perlu menjalin hubungan dengan raja di Pagaruyung agar memperoleh akses dagang dengan penambang emas di sana. William Damper (Inggris) mencatat bahwa di Aceh karena tambang emas dan seringnya orang asing datang, orang Aceh jadi hidup kaya dan berlimpah (h.133). Dampier mengatakan bahwa emas di Aceh dari gunung yang letaknya jauh dari Aceh,letaknya lebih dekat ke pantai barat daripada Selat Malaka (h.134).

Kejayaan Sriwijaya yang pernah gemilang juga memikat Sir Thomas Stanford Rafless mengunjungi Minangkabau untuk mencari sisa-sisa peradaban kuno tersebut. Kunjungannya ke kerajaan Pagaruyung untuk mendapat sekutu dari raja-raja disana, ia tuliskan dalam laporannya ke Inggris pada 1818.

Penelitian mencari reruntuhan kerajaan tersebut digeluti oleh Friedrich Schnitger, arkeolog asal Belanda yang menyusuri sungai Barumun di Padang Lawas. Ia menemukan candi yang dinamakan Candi Sangkilon, yang menyimpulkan bahwa pengaruh Hindu dan Budha terdapat wilayah Batak bagian selatan. Schnitger melanjutkan penelitian dua orang geolog sebelumnya yaitu Junghuhn (1847), Von Rosenberg (1878), dan P.V. van Stein Callenfels yang mengunjungi area ini pada 1920.

Populernya tanaman perkebunan karet dan tembakau di awal abad 20, menyebabkan Belanda mendirikan perkebunan di tanah Deli. Manajemen perkebunan yang mendatangkan kuli kontrak dari Jawa dan kehidupan para administrateur perkebunan ditulis oleh suami istri Laslo Szekeley dan Madelon Szekely Lulofs serta Tan Malaka.

Prasangka
Francois Bernier (1620-1688) pernah menyarankan di majalah ilmiah Journal des Scavants agar manusia dikategorikan menurut warna kulit, postur dan bentuk muka.Bangsa Eropa merasa bahwa peradaban mereka lebih tinggi dan ras kulit putih lebih unggul dari ras kulit berwarna. Dan sepertinya pengaruh Belanda di nusantara membawa dampak sosial yang tidak sedikit.Pembedaan kelas masyarakat karena status sosial menjadi warisan hingga sekarang ini. Orang Sumatra dalam tulisan orang yang berkunjung ke sini digambarkan dalam stereotipe negatif. Umumnya mereka menggambarkan bahwa orang sumatra adalah bangsa kanibal.

Marco Polo mencatat bahwa penduduk Sumatra adalah penyembah berhala dan pemakan orang. Jika ada yang sakit, maka mereka akan memanggil penyihir (h.10) dan jika yang sakit itu mati, mereka akan menyantap tubuh yang mati hingga ke sumsum dan tulang-tulang orang itu (h.11). Emilio Modigliani, seorang ilmuwan penjelajah asal Italia, menyelidiki Tanah Toba dan mempelajari bagaimana air danau Toba dapat keluar. Ia mendapat kesulitan karena daerah yang berdekatan sedang terjadi perang. Ia bertemu dengan Guru Somalaing, Modigliani tidak dibunuh karena ia dianggap utusan Raja Rum (Roma, Italia) yang dipercaya orang Batak sebagai bangsa yang mengusir Belanda. Modigliani mencatat bahwa pada umumnya, Orang Batak sangat curiga dengan pendatang asing dan tidak segan-segan membunuhnya, namun jika orang Batak sudah mengenal Anda dan persaudaraan sudah terjalin, maka ia rela membela anda dengan nyawanya. (h.252)

Memang ada anggapan di benak orang Eropa bahwa orang batak terkenal kanibal, namun pengalaman Burton mencatat bahwa yang dialaminya justru sebaliknya. Orang Batak di lembah Silindung sangat cinta damai. sampai pada suatu kesimpulan,Richard Burton misionaris yang bertugas di Tanah Toba mencatat bahwa perilaku orang batak yang cinta damai kemungkinan adalah wujud ketakutan dan pengaruh takhyul jahat yang mengekang.(h.221). Selain itu Burton berkesimpulan mengapa Orang Batak tidak penakut, karena dalam konsep berpikir Orang Batak tidak ada pahala dan hukuman di masa depan, mereka membayangkan akan semakin kuat jika roh berpisah dari raga (h.228).

Dampier juga mencatat perilaku orang Cina di Aceh. Jika aktivitas dagang sedang susah, maka aktivitas judi yang meningkat. Orang Cina suka dan pandai berjudi, diibaratkan Hidup tanpa judi sama dengan hidup tanpa makan (h.137).

Inferior
Sekalipun bangsa Eropa beranggapan bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dibanding ras lain, namun untuk alasan tertentu mereka harus mengikuti aturan dimana mereka berpijak. Beberapa Penulis kisah perjalanan ini menuliskan betapa wibawa raja di Sumatra diterima dengan takut dan hormat oleh para pedagang yang hendak berniaga di sana. Ini menunjukkan bahwa budaya timur tidak inferior pada budaya barat yang (katanya) maju.

Francois Martin (Prancis) mencatat pada Tahun 1602 di Aceh, setelah memberikan barang pecah belah dan hadiah pada raja, raja menghadiahkan pakaian khas daerah Aceh kepada Jenderal kapal Monsieur de la Berdelieredan meminta supaya dikenakan di hadapan raja (h.73). Senada dengan hal itu, Thomas Bowrey (Inggris) mencatat pada tahun 1678, pada masa pemerintahan ratu Aceh, mereka menghadap sang ratu. Setelah memberi hadiah pada Ratu, Ratu juga menghadiahkan pakaian dan sorban kepada komandan kapal Inggris. Para pejabat istana akan membantu komandan kapal mengenakan pakaian hadiah tersebut karena ia harus mengenakannya saat itu juga (h.126). Thomas Forrest (Inggris) mencatat ketika ia menghadap raja Aceh, ia duduk dalam keadaan telanjang kaki lalu bersila dengan menekuk kaki dalam-dalam. menurut saya pose duduk seperti ini melelahkan (h.273). Walter Murray Gibson, petualang dari Amerika mencatat ketika ia menerima jamuan dari raja Palembang, ia mencicipi hidangan sarang burung walet. Bayangkan, wadah untuk meletakkan dan menetaskan telur, dan tempat bagi anak-anak burung membuang kotoran beberapa hari sebelumnya, kini disajikan kepada perut saya yang beradab sebagai wujud kemewahan dari perjamuan ala Timur! (h.296).

Nasib Buruh Kebun Deli
Dua penulis Indonesia ini awalnya tidak masuk dalam daftar para penulis buku ini. Namun, Anthony Reid mengusulkan kepada Oxford University Press supaya memasukkan tulisan Tan Malaka dan Muhammad Radjab ke dalam buku ini. Kedua penulis ini sama-sama menyoroti perlakuan yang tidak fair para pelaku bisnis perkebunan kepada para kuli kontrak. Apa yang dituliskan (walaupun fiksi) oleh suami istri Lulofs, tidak jauh berbeda dengan tulisan Tan Malaka dan Radjab. Tan Malaka sempat menjadi asisten inspektur sekolah khusus buruh Indonesia di perkebunan Senembah Company, sedangkan Rajab menulis laporan perjalanannya untuk tempat kerjanya, Kantor Berita Antara.

Tema yang diangkat kedua penulis ini mengenai perkebunan Deli adalah kemiskinan kaum buruh. Rajab mencatat bahwa kemiskinan disebabkan bukan karena produksi perkebunan yang kurang, tapi keserakahan para pemilik kebun pribumi yang tidak kenal belas kasihan memeras tenaga buruh untuk kekayaan pribadi (h.374). Sementara Tan Malaka menyoroti gaji buruh pribumi yang rendah. Gaji yang rendah menyebabkan si buruh berutang, dan utang menyebabkan si buruh berjudi, dan akibat kalah judi, si buruh harus mengikat kontrak lagi. Malaka menambahkan 90% dari buruh tersebut tak punya harapan untuk naik pangkat (h.334).

Kritis
Satu hal telah terbukti dengan membaca kisah tulisan ini bahwa ungkapan yang dikatakan Bung Karno bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad adalah tidak benar. Kolonialisme baru terjadi pada abad 18. Selain itu, dulu belum ada konsep negara kesatuan Indonesia, Yang terjadi sesungguhnya adalah Belanda dibuat pusing dengan perlawanan rakyat (Sumatra) yang dahsyat, sebut saja Perang Aceh (1873-1904) dan Perang Padri (1821-1837).

Pohon geulumpang atau kelumpang (Sterculia foetida, LINN), yang tumbuh di halaman Mesjid Raya, oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom (pohon Kohler) karena tak jauh dari situ Jenderal Kohler tewas pada tanggal 14 April 1873.


Kehadiran terjemahan buku ini cukup menambah perbendaharaan buku-buku sejarah yang sudah ada, Walau disusun untuk para pembaca Eropa, buku ini tidak kalah menarik, sebab kita membaca dari tulisan orang pertama yang menyaksikan dan yang berkunjung langsung ke Sumatra, walaupun akan ada perbedaan konteks karena jarak penulisan yang cukup jauh dengan zaman sekarang dan mungkin terjadi perbedaan makna karena telah melalui proses penerjemahan dari bahasa asli ke bahasa inggris baru ke bahasa indonesia. Masih banyak misteri yang belum terungkap pada Sumatra. Tugas kita selaku pembaca (generasi) sekarang adalah mengkritisi dan mempersempit jarak, Mengkritisinya dengan cara membaca sumber-sumber lain, mendiskusikan, serta merekonstruksi Sumatra menjadi suatu pemahaman yang utuh. Sebab Sumatra juga adalah kekayaan Indonesia.

@hws22032011


Helvry Sinaga
Baru saya menyadari di kedua lagu Michael Jackson ini mengandung kalimat yang sama, yaitu: Just Call My Name and I'll Be There.
Mari kita saksikan



One day in your life
you'll remember a place
Someone's touching your face
You'll come back and you'll look around you

One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...

One day in your life
When you find that you're always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I'll be there

(Oh-oh-oh-oh-oh...)

You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You'll remember one day...

One day in your life
When you find that you're always longing
for the love we used to share
Just call my name
And I'll be there

(Ohh...)



You and I must make a pact, we must bring salvation back
Where there is love, I'll be there
I'll reach out my hand to you, I'll have faith in all you do
Just call my name and I'll be there
Chorus:
And oh - I'll be there to comfort you,
Build my world of dreams around you, I'm so glad that I found you
I'll be there with a love that's strong
I'll be your strength, I'll keep holding on - yes I will, yes I will
Let me fill your heart with joy and laughter
Togetherness, well that's all I'm after
Whenever you need me, I'll be there
I'll be there to protect you, with an unselfish love I respect you
Just call my name and I'll be there
(chorus)
If you should ever find someone new, I know he'd better be good to you
'Cos if he doesn't, I'll be there
Don't you know, baby, yeah yeah
I'll be there, I'll be there, just call my name, I'll be there
(Just look over your shoulders, honey - ooh)
I'll be there, I'll be there, whenever you need me, I'll be there
Don't you know, baby, yeah yeah
I'll be there, I'll be there, just call my name, I'll be there...
Helvry Sinaga
Sedihnya film Indonesia jka dibanding dengan film-film dari luar. Kelas film Indonesia sepertinya hanya seputar arwah, pocong, dan kemolekan tubuh.

Saya belum tahu apakah itu menggambarkan selera tontonan masyarakat pada umumnya, mengingat jumlah rakyat Indonesia yang terbesar justru di kalangan menengah ke bawah. Sama halnya seperti di televisi, penonton disuguhi dengan sinetron-sinetron yang memiliki jalan cerita tidak jelas. Akhirnya orang-orang (termasuk saya) beralih ke saluran televisi berbayar untuk menonton tayangan bermutu.

Terlalu naif jika kita mengatakan bahwa itu sepatutnya adalah tanggung jawab pemerintah. Anehnya, tidak ada masyarakat yang mengkritisi bahwa seharusnya perihal tontonan itu bagus atau tidak itu adalah hak kita sebagai konsumen. Dilihat dari segi ekonomi, seharusnya tidak ada barang yang gratis. Kalaupun gratis, kita membayarnya bukan dengan sejumlah uang, tapi dengan membuang waktu kita dengan percuma dengan menonton iklan komersil dari televisi tersebut.

Sebenarnya masyarakat kita terlalu enak dengan menikmati siaran olahraga sepakbola dengan gratis. menonton konser dengan gratis. Nah apakah berani kita bilang untuk tayangan lainnya, seperti sinetron atau reality show yang memuakkan adalah tanggung jawab pemerintah atau stasiun televisi itu juga?

Kembali ke film tadi. Semoga tayangan Indonesia semakin bermutu. Sudah banyak putra Indonesia yang belajar ke luar negeri untuk belajar syuting, penyutradaraan, sinematografi, dan sebagainya, dan kabar baik lainnya banyak film yang diangkat ke layar lebar berasal dari novel-novel karya putra bangsa. Saya berharap karya seperti Laskar Pelangi, Rumah Tanpa Jendela. Ketika Cinta Bertasbih, dan sebagainya bisa menembus pasar internasional.

Semoga
@hws17032011
Helvry Sinaga
Judul: Malam di Kota Merah
Pengarang: Toni Lesmana

Bersudut pandang seorang yang ditodong oleh perampok di suatu tempat, dimana ternyata sang perampok belum mahir menggunakan pisau sebagai alat bantu rampok.
Pisau itu akhirnya menancap di kening sang pemuda, dan pemuda itu membawa pisau yang tertancap itu kemana-mana.

Orang-orang menjadi takut melihatnya sebab darah begitu banyak keluar dari kepalanya, namun tidak ada yang berusaha mengobatinya.
Si pemuda tidak rela mati begitu saja karena pisau itu, ia ingin mati dalam kebahagiaan, mati karena rindu yang mendalam pada kekasih, dan menghadap Tuhan dalam keadaan hidup.

Apakah karena cerita ini bersastra tinggi, saya tak mampu mencernanya dengan baik. Kelihatannya si tokoh utama sangat gelisah. Peristiwa perampokan yang berujung pada penikaman, adalah pemicu dari konflik yang terjadi dalam dirinya. Tokoh utama sangat kesepian, bahkan di kota yang ramai seperti Kota Merah. Apakah mungkin sebuah kritikan pada kota metropolitan yang sudah kehilangan toleransi pada sesama yang tertindas? atau menggambarkan sebuah kepasrahan yang membuat akal sehat menjadi hilang?

Mungkin saja....
@hws16112011

Helvry Sinaga
date:

rsvp by:
venue:
t

ype:
added by:
March 13, 2011 01:00PM -- March 13, 2011 03:00PM
March 13, 2011 01:00PM
Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta, Gd. Nyi Ageng Serang Lt. VII-VIII Jl. HR Rasuna Said Kav. C22 Jakarta Selatan, ID
author appearance


Sobat Perpus

Hai Sobat Perpus,

Sudah baca artikel Kembali Ke Perpustakaan oleh Amang Suramang (Penulis kreatif, mantan moderator komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia periode 2008-2010, inisiator berdirinya gerakan Sobat Perpus)? Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa untuk mengaktifkan perpustakaan publik yang ada diperlukan partisipasi aktif masyarakat. Salah satunya dengan program Sobat Perpus. Kegiatannya berupa mendata dan mengunjungi perpustakaan-perpustakaan yang ada, mengenal pustakawannya dan melihat koleksi-koleksi buku yang ada.

Menindaklanjuti hal tersebut, Goodreads Indonesia mengajak teman semua untuk mengikuti kegiatan sobat perpus dengan mengunjungi:

Tempat: Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta
Alamat: Gd. Nyi Ageng Serang Lt. VII-VIII Jl. HR Rasuna Said Kav. C22 Jakarta Selatan
Hari/Tanggal: Minggu/ 13 Maret 2011
Waktu: 13.00-15.00 WIB
Kegiatan: Mendaftar sebagai anggota perpustakaan (gratis), berkeliling perpustakaan sambil melihat dan membaca koleksi buku yang ada dan diakhiri dengan diskusi bersama pustakawan (Lucky Astarani)

Kegiatan ini tidak dipungut biaya sama sekali. Bagi anda yang ingin ikut, bisa langsung datang ke tempat acara atau bisa berkumpul di area foodcourt Pasar Festival Kuningan Jakarta Selatan. Dari pasar festival tersebut kita akan berangkat bareng ke perpustakaan pada pukul 12.50 WIB.

Yuk kembali ke Perpustakaan!!!

CP: Harun Harahap 085692593710
Link Thread Terkait
Helvry Sinaga
Cerpen Laron
Pengarang: Mashdar Zainal
dimuat di Kompas 6 Maret 2011

Anak kecil mempunya imajinasi yang kadang tidak dapat dipahami oleh orang dewasa. Seperti tokoh "Aku" dalam Cerpen ini. Ia seorang anak tunggal di sebuah keluarga. Ia dimarahi ayahnya karena memasukkan laron dari luar rumah ke kamarnya. Mungkin bagi seorang anak, mengasyikkan melihat laron terbang berputar-putar mengelilingi lampu kemudian sayapnya luruh dan laron tersebut berjalan di lantai.

Ia akhirnya mengunci kamar dan membuka jendela supaya laron semakin banyak datang ke kamar. Kemudian ia membersihkan sayap yang jatuh serta mengambil rantang plastik untuk menampung laron yang sudah tak bersayap.

Pelajaran yang penting disini adalah ketika laron tersebut berbicara (ini fiksi banget) yang mengatakan kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak...semoga kamu tidak menjadi seperti kami yang menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.

Akhirnya "Aku" melihat bahwa bapaknya katak dan cicak itu ketika di meja makan bapaknya dengan lahap memakan rempeyek laron.
Helvry Sinaga
Ini foto dulu sebelum kita berangkat ke kantor gubernur di Padang Desember lalu. Seperti biasa, kita akan cari korban yang mau motoin kita. Kali ini adalah satpam hotel.
Kenapa yang ada label Sold-nya adalah embak-embak. Awalnya sih mau nutupin tanggal yang ada di kanan bawah, kok nggak nemu-nemu yang cocok. Akhirnya ketemu yang sold ini, dan berhubung harena dia satu-satunya dari kita berempat yang sudah merid. jadilah dicocok-cocokkan. hahaha.

Kenapa pakai topi and syal segala, gara-gara nyobain fasilitas editing pada photobucket, eh nggak taunya bisa yg kayak beginian..Seru banget daah..nggak terasa kerjaan pun ditinggal. hehehee

PS. Ket Gambar
(dari kiri ke kanan)
Arlin-Helvry-Mbak Tari-Bayu.
Lokasi: Hotel Pangeran Beach, Padang
Helvry Sinaga
Saya salut dengan kepiawaian fotografer yang mengambil momen ini. Foto ini adalah gambar headline Kompas hari ini (4 Maret 2011) yaitu gambar seorang anak melihat ke luar jendela dari dalam bus yang membawanya ia dan keluarganya meninggalkan Tunisia-Libya.

Seperti yang kita tahu bahwa Libya saat ini sedang dilanda krisis kepemimpinan dimana terjadi perang saudara antara penentang Moamar Khadafy dan pasukan pembelanya.
Hal yang mirip terjadi sewaktu terjadi Instabilitas di Aceh. Saat itu sekitar akhir Desember 1999. Ibu saya dan adik saya harus meninggalkan Aceh Tengah karena dinilai Aceh tidak akan bergabung lagi dengan NKRI. Saat itu saya tidak mengerti kondisi politik dan keamanan. Ibu saya tiba di Medan dengan membawa sebegitu banyak barang-barang. Lemari, Meja makan, lemari es, tempat tidur, koper yang diisi pakaian penuh. Dan ibu saya menangis. Menangis karena apa? Semua. Sebab sepertinya tidak akan ada lagi masa depan di sana. Ibu saya mungkin menangisi apa yang sudah dikumpulkan sedikit-sedikit sehingga ada tempat bernaung keluarga kami, ibu mungkin menangisi kota yang sudah dicintainya, ibu mungkin menangisi bahwa ia akan berpisah dengan teman dekat yang sudah seperti keluarga, dan ibu menangisi bapak saya yang (masih) berada di sana.

Banyak orang yang mungkin menganggap biasa berita seperti perang saudara, menggulingkan pemerintahan dengan kekerasan, demonstrasi. Tapi bagi saya, hal itu berbeda. Ada satu atau dua keluarga yang sedang menangisi hal itu. Sebab tanpa perlu diceritakan, sebenarnya hati menjerit. Semoga krisis di Libya lekas berlalu. Tidak peduli siapa pemimpinnya. Peduli pada rakyatnya.

salam damai.

Helvry Sinaga


Penerbit Komunitas Bambu bekerjasama dengan LKBN ANTARA menyelenggarakan:
Bedah Buku Sumatera Tempo Doeloe.
Dari Marco Polo sampai Tan Malaka
(Komunitas Bambu, November 2010)
disusun oleh Anthony Reid

Tempat:
Wisma Antara, Ruang Rapat Utama Lt. 19
Jl. Medan Merdeka Selatan, No. 17 Jakarta Pusat

Tanggal, jam:
Jum’at, 4 Maret 2011, pukul 15.00 – 17.00 WIB

Narasumber :

1. Basyral Hamidy Harahap
Sejarawan Sumatera yang banyak menulis buku tentang Sumatera. Beberapa punlikasinya antara lain, Kejuangan Adam Malik (1917–1984) (Yayasan Adam Malik, 1998); Greget Tuanku Rao (Komunitas Bambu, 2007); Dari Penyabungan ke Madina (2010); dan sejumlah makalah serta pengantar pada buku-buku sejarah, terutama kajian Sumatera Utara.

Basyral Hamidy Harahap dilahirkan di Mandailing Natal, 15 November 1940. Sebelumnya sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1965-1967) dan menjadi bibliographer Ikatan Penerbit Indonesia Pusat 1967-1969.

2. Dewi Anggraeni
Penyunting buku Sumatera Tempo Doeloe. Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Sehari-hari bekerja sebagai pengajar tetap Bahasa Jepang di Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Sebagai lulusan pascasarjana Program Studi Ilmu Susastra Universitas Indonesia, Dewi Anggraeni akan hadir tidak hanya memaparkan proses kreatif penyuntingan buku ini, namun juga membedah buku tersebut menggunakan kacamata seorang akademisi kesusasteraan.

Moderator: Uswatul Chabibah (Pemimpin Redaksi Penerbit Komunitas Bambu)

SINOPSIS
Sumatera Tempo Doeloe. Dari Marco Polo sampai Tan Malaka berisi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera. Dipilih dan disusun oleh pakar sejarah Sumatera paling terkemuka, Anthony Reid, membuat kumpulan catatan perjalanan para penjelajah yang pernah menginjakkan kaki langsung ke tanah Sumatera ini menjadi sebuah perkisahan memukau tentang periode panjang sejarah Sumatera dari abad ke-9 sampai ke-20.

Meskipun tidak menceritakan sejarah Sumatera secara runtun, buku ini mengelompokkan catatan-catatan perjalanan tersebut dalam topik-topik tertentu sehingga dapat diperoleh gambaran umum tentang perubahan sosial, budaya, agama maupun politik di Sumatera. Sebab itu buku dapat menjadi sejenis ‘pengantar’ yang dapat dipakai sebagai media paling cepat untuk memasuki ruh Sumatera.

Namun, buku ini tidak hanya berisi uraian umum perihal kondisi Sumatera. Dimasukkan juga pengamatan atas seluk-beluk daerah yang dikunjungi maupun tingkah-polah masyarakatnya, sehingga memberikan warna tersendiri. Tak ayal pembaca buku ini akan menemukan banyak uraian yang tidak muncul dalam tulisan-tulisan sejarah yang sifatnya resmi, misalnya penggambaran Marco Polo yang menyangka menemukan unicorn di Sumatera. Lain lagi John Davis, petualang Inggris yang menggambarkan Sultan Alau’ddin Ri’ayat Syah dengan sangat karikatural sebagai sultan Aceh yang “Tidak melakukan apa pun sepanjang hari selain makan dan minum”. Atau kesaksian-kesaksian yang bikin ketawa, seperti ketika Friedrich Schnitger menggambarkan permusuhannya dengan raja lokal gara-gara kesal profesinya sebagai antropolog dicemooh dengan julukan ‘dokter batu’.

Catatan yang dibuat Reid pada setiap kesaksian yang dipilih, bukan saja akan memudahkan setiap pembaca mengenali sosok si pemberi kesskian, memahami konteks zaman ketika kesaksian dibuat, tetapi juga bagaimana menafsirkan ulang dan mencermati secara kritis kesaksian yang diberikan, sehingga pembaca tidak sekadar hanya bernostalgia ke Sumatera Tempo Doeloe.

* * *

Penerbit Komunitas Bambu (www.komunitasbambu.com)
Jl. Pala No. 4B Beji Timur
Depok, 16422, Jawa Barat
Phone/Fax: 021 – 7720 6987 / 0813 8543 0505 (CP. Nana Kurnia)
Helvry Sinaga
sekilas kita tidak akan tahu dimana ini. Tapi setelah saya cermati, dan setelah membaca beritanya, ini adalah Pantai Losari. Wow..saya tidak menyangka. Pertama kali datang ke Makassar pada Tahun 2006, pantainya tidak ada kapal-kapal seperti pada gambar ini.

Salut pada pemerintah daerah yang peduli akan pariwisata. sebab dengan daya tarik wisata, pemerintah secara tidak langsung memperkenalkan Indonesia pada dunia.

Pantai Losari terletak di pusat kota Makassar. Di sepanjang jalan pantai ini, tersedia banyak rumah makan yang menarik untuk dicoba. Aneka makanan tersedia, terutama yang bertema seafood. Ada satu warung mie yang menghadap laut. Viewnya bagus, makanannya enak dan murah. Di belakangnya lagi (Jalan Sombaopu) banyak toko yang menjual souvenir khas sulawesi selatan. Ada minyak kayu putih, kaos, hiasan dinding, dan sebagainya.

Tertarik kesini? hanya dua jam dari Makassar. dan di dekat pantai ini juga ada benteng peninggalan milik rakyat Sulsel yang diambil alih oleh Belanda. Bentengnya masih bagus dan terawat. Kalau mau ke Pulau Samalona, dapat menyewa perahu dari sini.

Kira-kira itu saja infonya. Silahkan teman-teman hunting lagi.
selamat berjalan-jalan.