Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts
Helvry Sinaga
Judul: Tuan Alu dan Nyonya Lesung
Pengarang: Zelfeni Wimra
Koran Tempo, 15 Mei 2011

Pada awalnya saya tidak menduga jika Zelfeni akan menceritakan pohon kopi dan batu dengan perumpaan sebagus ini. Konsep pertemuan yang memang "jodoh"nya, tak dapat diduga-duga dan rasanya ajaib. Seperti kutipan berikut:

Apakah Tuan Alu didatangkan dari belantara untuk Nyonya Lesung? Atau sebaliknya, Nyonya Lesung didatangkan dari sungai untuk Tuan Alu

Baik Tuan Alu dan Nyonya Lesung berasal dari latar belakang berbeda, punya cerita kesepian dan cerita cinta, namun mereka bekerja sama dalam tangan satu orang.

Pengalaman masa lalu turut membentuk kearifan. Apa yang dahulu boleh jadi sesuatu hal yang pahit, sedih, indah, bagus, namun bila dibandingkan dengan keadaan 'kekinian' tampaknya hal-hal tersebut tidaklah berarti. Perhatikan yang dialami Tuan Alu:

Helvry Sinaga
Judul: Ikan Kaleng
Pengarang: Eko Triono
/1/

Sepertinya cerita ini seperti membaca berita. Tidak saya temukan nuansa sastra atau keindahan bercerita di sini. Biasa saja...datar...tidak perlu permenungan.
Memang harus diakui kedatangan tenaga guru dari Jawa di tempat-tempat seperti di Papua sangat membantu pendidikan.

bagaimanapun, persoalan ekonomi adalah persoalan yang tidak sederhana. Ini masalah yang dialami sebagian besar rakyat Indonesia. Seperti dalam cerita ini, membuat ikan kaleng adalah keahlian mereka, supaya bisa makan dan hidup, mereka tidak menyadari bahwa pendidikan adalah cara untuk mengangkat diri dari kemiskinan dan kebodohan.

Helvry Sinaga
Judul: Belati dan Hati
Pengarang: Chairil Gibran Ramadhan
Kompas, 1 Mei 2011

Penulis dengan cerdas mengemas penantiannya pada dambaan hati. Rasa cinta yang tulus akan memampukan seseorang bergerak di luar kekuatan biasanya. "Aku" mengetahui dengan baik, bahwa untuk merebut gadis dambaannya, ia harus menukar tempat hatinya. Ia tak lupa ingin membekali Sang Gadis dengan sebilah belati, untuk melindunginya dari orang-orang yang hanya suka pada tubuhnya.

Helvry Sinaga
Judul: Nenek
Pengarang:Lie Charlie
Kompas, 24 April 2011

Tidak ada manusia yang sempurna. Karena sejak dilahirkan manusia sudah memiliki keberdosaan yang tinggal menunggu waktunya berbuah. Cerita ini berlatar seorang cucu yang menulis tentang pengalamannya bersama si Nenek. Nenek yang mungkin sebagian orang tidak beruntung bertemu dengannya, namun si Aku mengisahkan si Nenek dengan luka hati yang cukup dalam.

Helvry Sinaga
Judul: Ulat Bulu
Pengarang:  Romi Zarman
Korantempo, 24 April 2011

Dasar ulat bulu. Ulah siapakah yang menyebabkan populasinya meningkat? Akhirnya ulat bulu datang ke Senayan. Turut membuat gerah para anggota wakil rakyat. Cerita ini sebenarnya terlalu ringan, hanya menuangkan peristiwa terkini mengenai ulat bulu dalam sebuah kisah kecil seorang anggota DPR(D). Apakah cerita ini bermaksud "menyindir" anggota yang terhormat, karena setiap sidang paripurna, mereka akan memperoleh uang sidang.

Siapa ulat bulu sebenarnya? apakah ia perwujudan dari ketidakadilan? ataukah ia akibat dari penindasan? ulat bulu tidak mematikan, cukup membuat gerah saja. Itulah yang terjadi. Ulat bulu membuat gatal kulit penguasa.

Helvry Sinaga
Sang Penulis
Noor H. Dee
Koran Tempo, 17  April 2011

Seorang penulis yang merasa frustasi karena karya tulisnya tidak membawa perubahan. Mungkin setiap orang berbeda tujuannya menulis. Bagi saya, menulis menjadi keasyikan tersendiri karena saya tidak perlu dihakimi dengan segala macam kaidah menulis seperti di sekolahan.

Jadi, saya tak perlulah yaa menghentikan hobi menulis saya.


Helvry Sinaga
Judul: Orang-orang Larenjang
Pengarang: Damhuri Muhammad
Kompas, 17 April 2011

Kali ini saya mencoba untuk menarik cerita pendek kompas minggu tersebut ke sini. Sehingga nanti reviewnya bisa sekalian dengan apa isi cerpennya. Dalam suatu masyarakat tertentu, katakanlah seperti batak, tidak diperbolehkan menikah dengan semarga, bukan berarti tidak bisa dengan keluarga dekat seperti cerita ini. Sampai sekarang, saya belum memeroleh pemahaman mengapa tidak diperbolehkan. Apakah mungkin pelanggaran akan aturan adat menyebabkan karma di kemudian hari? saya belum pernah membaca kajian atau penelitian akan hal tersebut. Dalam cerita ini, saya mencermati, bahwa urusan adat dan nikah menikah adalah permasalahan sosial, kalaupun ada hal-hal di luar kemampuan manusia seperti kematian, itu adalah urusan Si Pemberi Hidup. Bukan manusia sama sekali. Seberapa banyakkah terjadi seperti Julfahri dan Nurhusni, yang atas nama cinta tidak memedulikan lagi penghargaan pada manusia lain. Apakah dengan status sosial dan pendidikan tinggi seolah tidak menghargai lagi hukum lokal? Harus diakui, memang ada aturan tradisional yang memang tidak relevan dan tidak rasional lagi dilakukan. Namun, bukan berarti mengatakan tidak setuju atau tidak sependapat dengan cara merendahkan sesama. Pelajaran ini yang sering terlupa bagi mereka yang ingin "menabrak" aturan adat.

Helvry Sinaga

Penulis : Uli Kozok
ISBN : 978-979-461-776-2
Dimensi : 14 x 21 cm
Jenis Cover : soft cover
Berat Buku : 210
Jenis Kertas : Book Paper
219 halaman
Harga Rp50.000,-

Masih dalam rangkaian membaca bersama tentang Sumatra, buku ini saya beli ketika acara bedah buku Sumatra Tempo Doeloe yang diselenggarakan di Kantor Berita Antara. Membaca kata pengantar buku ini cukup menarik, sebab buku ini diterbitkan, ternyata sudah dilakukan seminar di Universitas Negeri Medan tentang kesahihan bukti-bukti yang diungkap oleh Uli Kozok. Salah satu yang mempertanyakan keaslian naskah yang menjadi bukti Kozok adalah Profesor Bungaran Simanjuntak, namun Kozok berhasil mendapatkan arsip itu dan menjadi lampiran buku ini.

Helvry Sinaga
Judul: Botol Kubur
Pengarang: Arman AZ
Kompas, 10 April 2011

Siapa yang rela terlahir sebagai orang miskin? Siapa yang pernah bermimpi menjadi orang miskin? Apakah menghilangkan kemiskinan seolah melukis langit? Membaca cerita pendek ini saya mendapat gambaran dari pencerita bagaimana dari hari ke sehari rezeki diperjuangkan. Bukan maksud mau mencederai prinsip orang yang mengatakan: rezeki nggak kemana. Saya menyaksikan sendiri orang-orang (kebanyakan anak-anak) yang mengais tempat sampah, berkeliling memanggul karung mencari botol plastik atau botol kaca yang bisa mereka jual. Saya menduga mereka tidak bersekolah karena harus membantu orangtua untuk "memperjuangkan" rezeki. Tidak mencari sama dengan tidak makan. Suatu konsekwensi berat yang kejam. Saya juga mendengar cerita abang saya yang sewaktu kecil pas liburan harus bekerja memasukkan tanah ke dalam polyback dan diupah beberapa ratus rupiah per polyback yang diisi. Sekali lagi karena harus berjuang. Saya menilai diri saya, apa yang saya lakukan seusia itu?

Helvry Sinaga
Judul: Pusara
Pengarang: Yovantra Arief

Sebuah siklus di muka bumi, orang merayakan kelahiran dan meratapi kematian. Tetapi mungkin itulah penyeimbang bumi. Bumipun tak akan sanggup menampung seluruh manusia sekaligus.

Si penulis memaparkan sebuah keadaan awal dimana peristiwa kematian meninggalkan duka mendalam. Kematian adik dari Togar, sahabat dekatnya, membuat "aku" memahami kesedihan yang dialami Togar. Sebelumnya ada kakek dan neneknya yang meninggal. Dan sebuah pemandangan yang memilukan ketika di depannya sebuah truk melindas pengemudi sepeda motor dan tewas seketika.

Helvry Sinaga
Judul: Tradisi Telur Merah
Pengarang: Sanie B. Kuncoro
Kompas, 27 Maret 2011

Pesta telur merah dan jahe berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti di negara negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dahulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern pada abad ke 20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa, makanya diadakan sebuat pesta untuk merayakan hal itu. (Sumber dari sini). Satu butir telur untuk penanda bayi perempuan, sepasang telur untuk bayi laki-laki.

Helvry Sinaga
Judul: Mar Beranak di Limas Isa
Pengarang Guntur Alam
Kompas, 20 Maret 2011

Bercerita tentang Bi Maryam yang akrab disapa Bi Mar bersama suaminya Mang Isa. Mereka berdua mengharapkan anak laki-laki, padahal sudah punya 14 anak perempuan yang cantik-cantik.

Bi Mar mengikuti saran tetangganya yang menyuruh Bi Mar untuk mencuri sereket dari kayu milik perempuan yang telah beranak laki-laki dan sereket itu digunakan untuk menanak nasi. Nasi yang lengket di sereket itu dimakan, dan sereket itu ditaruh di bawah kasur kapuk.

Helvry Sinaga

Judul: Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka
Judul Asli: Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology
Penyusun: Anthony Reid
Penyunting: Dewi Anggraeni
ISBN13: 9789793731940
xxiv+ 424 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2010

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang yang pernah tinggal di Sumatra. Berbagai laporan, kesan serta kenangan ditulis sebagai warisan yang berharga bagi kita. Ditulis oleh 39 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Penulis terbanyak berasal dari Inggris, yaitu 11 orang. Posisi kedua terbanyak yang berasal dari Portugis dan Belanda masing-masing 5 orang. Posisi ketiga berasal dari Amerika dan Italia, masing-masing 3 orang. Dan dari dalam negeri sendiri, tulisan Tan Malaka serta Muhammad Radjab turut memperkaya kupasan tentang Deli pada awal abad 20. Profesi para penulis ini bermacam-macam. Yang paling banyak adalah sebagai pedagang. Profesi lainnya adalah sebagai wartawan, arkeolog, misionaris, masinis kapal, seniman, pegawai VOC, pegawai EIC, wakil gubernur, pembuat layar kapal, pelancong, ahli bedah, sejarawan, utusan Raja,petualang, penulis, dan sebagainya.

Periode penulisan catatan ini juga berbeda-beda. Tulisan paling awal adalah Sulayman, seorang pedagang Arab yang menceritakan tentang Kerajaan Sriwijaya pada Tahun 851. Periode Abad 13-14 ditulis oleh Marco Polo dan Ibn. Batutta. Abad ke 15 ditulis oleh 5 orang. Abad 17 ditulis 10 orang. Abad 18 oleh 3 orang, abad 19 oleh 10 orang, serta periode abad 20 ditulis oleh 8 orang.

Anthony Reid menyusun tulisan-tulisan tersebut dalam 7 bagian. Bagian Pertama dimulai dengan pendaratan pertama di Asia Tenggara dan diakhiri Bagian Tujuh yaitu Sumatera sebagai Tanah Jajahan dan Keruntuhannya. Jika kita memilah-milah Sumatra dengan provinsi yang ada sekarang, maka provinsi Nanggroe Aceh Darusallam-lah yang paling banyak diceritakan, yaitu 17 tulisan. Selanjutnya Provinsi Sumatra Utara, 11 tulisan, Provinsi Sumatra Barat, 4 tulisan, Provinsi Sumatra Selatan 3 tulisan, Provinsi Bengkulu dan Riau masing-masing 2 tulisan.

Bagaimana orang menyebut Sumatra mula-mula?
Pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib). Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatra sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai (Barus).

Pertanyaan utama ialah, apa yang menarik bagi para orang zaman dulu datang ke Sumatra? Jawabannya: Karena emas. Selain itu, selama abad 16 dan 17, Sumatra menjadi penghasil lada terbesar di pasar internasional. Tidak diketahui bagaimana lada bisa menjadi komoditi utama, namun diduga pedagang dari India yang membawa lada ke Sumatra untuk ditanam sebab sebelumnya sudah berhasil ditanam di Malabar. Selanjutnya Sumatra menjadi koloni yang menguntungkan bagi Belanda karena hasil tanahnya yang diolah dalam perkebunan karet, kelapa sawit, teh, coklat, dan tembakau menjadi komoditas dagang yang paling populer.

Catatan Perjalanan
Dalam buku ini, Orang Eropa yang pertama kali mengunjungi Sumatra adalah Marco Polo. Karena tulisannyalah, akhirnya menyebabkan banyak orang Eropa mendatangi Pulau yang tersohor karena emas dan keindahan alamnya ini. Diperkirakan ia mengunjungi Sumatra pada Tahun 1290an. Selanjutnya diikuti oleh Cornelis de Houtman dari Belanda pada tahun 1596 di Malaka. Pada awalnya orang-orang dari Eropa datang ke Sumatra tujuannya adalah berdagang. Namun tidak hanya perdagangan yang dibawa oleh orang-orang itu, namun juga agama dan budaya. Baik Portugis, Belanda, maupun Inggris tidak ada yang berani menguasai kerajaan-kerajaan (Islam) yang ada di Sumatera. Inggris membuat pangkalan dagang di Bencoleen (Bengkulu) sejak 1700, dan Belanda membuat pangkalan dagang di Padang (sejak 1660an), sedangkan Inggris mendapat keistimewaan berdagang dengan Aceh. Pelayaran berbulan-bulan di laut, masuk dan keluar pelabuhan, kesan pada alam dan orang di daerah baru, membuat salah seorang dari rombongan untuk membuat tulisan perjalanan.

Jalur perdagangan untuk mencapai Sumatra terdiri dari tiga jalur, lewat Selat Malaka, Selat Sunda, atau melewati Semenanjung Malaya. Jalur Selat Malaka menjadi favorit sebab lautnya tidak seganas barat sumatra, komoditas yang diperdagangkan lebih bervariasi seperti lada, kapur barus, kain sutra, emas.

Emas yang disebut-sebut di Sumatra diincar oleh pendatang yang datang ke Minangkabau. Tempat yang diduga banyak mengandung emas ada di daerah Tanah Datar. Thomas Dias, utusan VOC, merasa perlu menjalin hubungan dengan raja di Pagaruyung agar memperoleh akses dagang dengan penambang emas di sana. William Damper (Inggris) mencatat bahwa di Aceh karena tambang emas dan seringnya orang asing datang, orang Aceh jadi hidup kaya dan berlimpah (h.133). Dampier mengatakan bahwa emas di Aceh dari gunung yang letaknya jauh dari Aceh,letaknya lebih dekat ke pantai barat daripada Selat Malaka (h.134).

Kejayaan Sriwijaya yang pernah gemilang juga memikat Sir Thomas Stanford Rafless mengunjungi Minangkabau untuk mencari sisa-sisa peradaban kuno tersebut. Kunjungannya ke kerajaan Pagaruyung untuk mendapat sekutu dari raja-raja disana, ia tuliskan dalam laporannya ke Inggris pada 1818.

Penelitian mencari reruntuhan kerajaan tersebut digeluti oleh Friedrich Schnitger, arkeolog asal Belanda yang menyusuri sungai Barumun di Padang Lawas. Ia menemukan candi yang dinamakan Candi Sangkilon, yang menyimpulkan bahwa pengaruh Hindu dan Budha terdapat wilayah Batak bagian selatan. Schnitger melanjutkan penelitian dua orang geolog sebelumnya yaitu Junghuhn (1847), Von Rosenberg (1878), dan P.V. van Stein Callenfels yang mengunjungi area ini pada 1920.

Populernya tanaman perkebunan karet dan tembakau di awal abad 20, menyebabkan Belanda mendirikan perkebunan di tanah Deli. Manajemen perkebunan yang mendatangkan kuli kontrak dari Jawa dan kehidupan para administrateur perkebunan ditulis oleh suami istri Laslo Szekeley dan Madelon Szekely Lulofs serta Tan Malaka.

Prasangka
Francois Bernier (1620-1688) pernah menyarankan di majalah ilmiah Journal des Scavants agar manusia dikategorikan menurut warna kulit, postur dan bentuk muka.Bangsa Eropa merasa bahwa peradaban mereka lebih tinggi dan ras kulit putih lebih unggul dari ras kulit berwarna. Dan sepertinya pengaruh Belanda di nusantara membawa dampak sosial yang tidak sedikit.Pembedaan kelas masyarakat karena status sosial menjadi warisan hingga sekarang ini. Orang Sumatra dalam tulisan orang yang berkunjung ke sini digambarkan dalam stereotipe negatif. Umumnya mereka menggambarkan bahwa orang sumatra adalah bangsa kanibal.

Marco Polo mencatat bahwa penduduk Sumatra adalah penyembah berhala dan pemakan orang. Jika ada yang sakit, maka mereka akan memanggil penyihir (h.10) dan jika yang sakit itu mati, mereka akan menyantap tubuh yang mati hingga ke sumsum dan tulang-tulang orang itu (h.11). Emilio Modigliani, seorang ilmuwan penjelajah asal Italia, menyelidiki Tanah Toba dan mempelajari bagaimana air danau Toba dapat keluar. Ia mendapat kesulitan karena daerah yang berdekatan sedang terjadi perang. Ia bertemu dengan Guru Somalaing, Modigliani tidak dibunuh karena ia dianggap utusan Raja Rum (Roma, Italia) yang dipercaya orang Batak sebagai bangsa yang mengusir Belanda. Modigliani mencatat bahwa pada umumnya, Orang Batak sangat curiga dengan pendatang asing dan tidak segan-segan membunuhnya, namun jika orang Batak sudah mengenal Anda dan persaudaraan sudah terjalin, maka ia rela membela anda dengan nyawanya. (h.252)

Memang ada anggapan di benak orang Eropa bahwa orang batak terkenal kanibal, namun pengalaman Burton mencatat bahwa yang dialaminya justru sebaliknya. Orang Batak di lembah Silindung sangat cinta damai. sampai pada suatu kesimpulan,Richard Burton misionaris yang bertugas di Tanah Toba mencatat bahwa perilaku orang batak yang cinta damai kemungkinan adalah wujud ketakutan dan pengaruh takhyul jahat yang mengekang.(h.221). Selain itu Burton berkesimpulan mengapa Orang Batak tidak penakut, karena dalam konsep berpikir Orang Batak tidak ada pahala dan hukuman di masa depan, mereka membayangkan akan semakin kuat jika roh berpisah dari raga (h.228).

Dampier juga mencatat perilaku orang Cina di Aceh. Jika aktivitas dagang sedang susah, maka aktivitas judi yang meningkat. Orang Cina suka dan pandai berjudi, diibaratkan Hidup tanpa judi sama dengan hidup tanpa makan (h.137).

Inferior
Sekalipun bangsa Eropa beranggapan bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dibanding ras lain, namun untuk alasan tertentu mereka harus mengikuti aturan dimana mereka berpijak. Beberapa Penulis kisah perjalanan ini menuliskan betapa wibawa raja di Sumatra diterima dengan takut dan hormat oleh para pedagang yang hendak berniaga di sana. Ini menunjukkan bahwa budaya timur tidak inferior pada budaya barat yang (katanya) maju.

Francois Martin (Prancis) mencatat pada Tahun 1602 di Aceh, setelah memberikan barang pecah belah dan hadiah pada raja, raja menghadiahkan pakaian khas daerah Aceh kepada Jenderal kapal Monsieur de la Berdelieredan meminta supaya dikenakan di hadapan raja (h.73). Senada dengan hal itu, Thomas Bowrey (Inggris) mencatat pada tahun 1678, pada masa pemerintahan ratu Aceh, mereka menghadap sang ratu. Setelah memberi hadiah pada Ratu, Ratu juga menghadiahkan pakaian dan sorban kepada komandan kapal Inggris. Para pejabat istana akan membantu komandan kapal mengenakan pakaian hadiah tersebut karena ia harus mengenakannya saat itu juga (h.126). Thomas Forrest (Inggris) mencatat ketika ia menghadap raja Aceh, ia duduk dalam keadaan telanjang kaki lalu bersila dengan menekuk kaki dalam-dalam. menurut saya pose duduk seperti ini melelahkan (h.273). Walter Murray Gibson, petualang dari Amerika mencatat ketika ia menerima jamuan dari raja Palembang, ia mencicipi hidangan sarang burung walet. Bayangkan, wadah untuk meletakkan dan menetaskan telur, dan tempat bagi anak-anak burung membuang kotoran beberapa hari sebelumnya, kini disajikan kepada perut saya yang beradab sebagai wujud kemewahan dari perjamuan ala Timur! (h.296).

Nasib Buruh Kebun Deli
Dua penulis Indonesia ini awalnya tidak masuk dalam daftar para penulis buku ini. Namun, Anthony Reid mengusulkan kepada Oxford University Press supaya memasukkan tulisan Tan Malaka dan Muhammad Radjab ke dalam buku ini. Kedua penulis ini sama-sama menyoroti perlakuan yang tidak fair para pelaku bisnis perkebunan kepada para kuli kontrak. Apa yang dituliskan (walaupun fiksi) oleh suami istri Lulofs, tidak jauh berbeda dengan tulisan Tan Malaka dan Radjab. Tan Malaka sempat menjadi asisten inspektur sekolah khusus buruh Indonesia di perkebunan Senembah Company, sedangkan Rajab menulis laporan perjalanannya untuk tempat kerjanya, Kantor Berita Antara.

Tema yang diangkat kedua penulis ini mengenai perkebunan Deli adalah kemiskinan kaum buruh. Rajab mencatat bahwa kemiskinan disebabkan bukan karena produksi perkebunan yang kurang, tapi keserakahan para pemilik kebun pribumi yang tidak kenal belas kasihan memeras tenaga buruh untuk kekayaan pribadi (h.374). Sementara Tan Malaka menyoroti gaji buruh pribumi yang rendah. Gaji yang rendah menyebabkan si buruh berutang, dan utang menyebabkan si buruh berjudi, dan akibat kalah judi, si buruh harus mengikat kontrak lagi. Malaka menambahkan 90% dari buruh tersebut tak punya harapan untuk naik pangkat (h.334).

Kritis
Satu hal telah terbukti dengan membaca kisah tulisan ini bahwa ungkapan yang dikatakan Bung Karno bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad adalah tidak benar. Kolonialisme baru terjadi pada abad 18. Selain itu, dulu belum ada konsep negara kesatuan Indonesia, Yang terjadi sesungguhnya adalah Belanda dibuat pusing dengan perlawanan rakyat (Sumatra) yang dahsyat, sebut saja Perang Aceh (1873-1904) dan Perang Padri (1821-1837).

Pohon geulumpang atau kelumpang (Sterculia foetida, LINN), yang tumbuh di halaman Mesjid Raya, oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom (pohon Kohler) karena tak jauh dari situ Jenderal Kohler tewas pada tanggal 14 April 1873.


Kehadiran terjemahan buku ini cukup menambah perbendaharaan buku-buku sejarah yang sudah ada, Walau disusun untuk para pembaca Eropa, buku ini tidak kalah menarik, sebab kita membaca dari tulisan orang pertama yang menyaksikan dan yang berkunjung langsung ke Sumatra, walaupun akan ada perbedaan konteks karena jarak penulisan yang cukup jauh dengan zaman sekarang dan mungkin terjadi perbedaan makna karena telah melalui proses penerjemahan dari bahasa asli ke bahasa inggris baru ke bahasa indonesia. Masih banyak misteri yang belum terungkap pada Sumatra. Tugas kita selaku pembaca (generasi) sekarang adalah mengkritisi dan mempersempit jarak, Mengkritisinya dengan cara membaca sumber-sumber lain, mendiskusikan, serta merekonstruksi Sumatra menjadi suatu pemahaman yang utuh. Sebab Sumatra juga adalah kekayaan Indonesia.

@hws22032011


Helvry Sinaga
Judul: Malam di Kota Merah
Pengarang: Toni Lesmana

Bersudut pandang seorang yang ditodong oleh perampok di suatu tempat, dimana ternyata sang perampok belum mahir menggunakan pisau sebagai alat bantu rampok.
Pisau itu akhirnya menancap di kening sang pemuda, dan pemuda itu membawa pisau yang tertancap itu kemana-mana.

Orang-orang menjadi takut melihatnya sebab darah begitu banyak keluar dari kepalanya, namun tidak ada yang berusaha mengobatinya.
Si pemuda tidak rela mati begitu saja karena pisau itu, ia ingin mati dalam kebahagiaan, mati karena rindu yang mendalam pada kekasih, dan menghadap Tuhan dalam keadaan hidup.

Apakah karena cerita ini bersastra tinggi, saya tak mampu mencernanya dengan baik. Kelihatannya si tokoh utama sangat gelisah. Peristiwa perampokan yang berujung pada penikaman, adalah pemicu dari konflik yang terjadi dalam dirinya. Tokoh utama sangat kesepian, bahkan di kota yang ramai seperti Kota Merah. Apakah mungkin sebuah kritikan pada kota metropolitan yang sudah kehilangan toleransi pada sesama yang tertindas? atau menggambarkan sebuah kepasrahan yang membuat akal sehat menjadi hilang?

Mungkin saja....
@hws16112011

Helvry Sinaga
Cerpen Laron
Pengarang: Mashdar Zainal
dimuat di Kompas 6 Maret 2011

Anak kecil mempunya imajinasi yang kadang tidak dapat dipahami oleh orang dewasa. Seperti tokoh "Aku" dalam Cerpen ini. Ia seorang anak tunggal di sebuah keluarga. Ia dimarahi ayahnya karena memasukkan laron dari luar rumah ke kamarnya. Mungkin bagi seorang anak, mengasyikkan melihat laron terbang berputar-putar mengelilingi lampu kemudian sayapnya luruh dan laron tersebut berjalan di lantai.

Ia akhirnya mengunci kamar dan membuka jendela supaya laron semakin banyak datang ke kamar. Kemudian ia membersihkan sayap yang jatuh serta mengambil rantang plastik untuk menampung laron yang sudah tak bersayap.

Pelajaran yang penting disini adalah ketika laron tersebut berbicara (ini fiksi banget) yang mengatakan kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak...semoga kamu tidak menjadi seperti kami yang menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.

Akhirnya "Aku" melihat bahwa bapaknya katak dan cicak itu ketika di meja makan bapaknya dengan lahap memakan rempeyek laron.
Helvry Sinaga
Paperback, Gold Edition, 536 pages
Published October 2010 (first published 1960)
Penerbit Qanita (Mizan Group)

"..Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa." (Hlm 173).

Novel klasik yang sudah berusia 50 tahun sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1960. Kehidupan di kota kecil Maycomb County, Alabama memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan masyarakat pada saat itu. Dimana pengalaman masa lalu menjadi pelajaran berharga. Diceritakan dari sudut pandang seorang anak 6 tahun, Jean Louis atau Scout yang bermain bersama kakaknya Jeremy Finch dan sahabat musim panas mereka, Dill. Ayah mereka, Atticus Finch adalah seorang pengacara. Ibu mereka sudah meninggal, namun ada Calpurnia yang mengasuh mereka.

Toleransi
Jean Louise sangat cerdas. Di kelasnya, ia satu-satunya yang dapat membaca dan menulis. Gurunya menyalahkan ayah Scout karena sudah mengajarinya membaca. "Kau seharusnya belum belajar itu, nak". katanya. Scout menceritakan teman-temannya yang ada di kelas. Salah satunya adalah Walter Cunningham. Walter berasal dari keluarga Cunningham di Maycomb County yang dikenal tidak bisa membayar sesuatu dengan uang, tapi dari hasil panen dari tanah keluarga mereka. Scout berhasil menjelaskan dengan bahasanya sendiri siapa itu keluarga Cunningham di Maycomb County. Itu membuat gurunya, Miss Caroline tersinggung dan menghukumnya.

Akhirnya Scout memukul Walter Cunningham di luar sekolah karena merasa Walter-lah penyebab ia dihukum oleh Miss Caroline. Namun, Walter tidak mendendam. Jem bertindak bijak dengan mengajak Walter makan siang ke rumah keluarga Finch. Seraya mengatakan pada Walter "Ayah kami berteman dengan ayahmu. Scout ini, dia memang gila dia tidak akan mengajakmu berkelahi lagi" (h.51).

Dari sini kelihatan kalau anak-anak tidak membeda-bedakan teman berdasarkan asalnya, status sosial, atau bahkan agama. Kita bisa bandingkan dengan Shmuel dan Bruno di cerita The Boy in the Striped Pajamas, Amir dan Hassan pada cerita The Kite Runner. Ketulusan berteman anak-anak patutlah kita tiru, tidak salah bukan orang dewasapun perlu belajar dari anak-anak.

Prasangka
John Wesley-Pendiri Methodist- mengatakan bahwa “Passion and prejudice govern the world; only under the name of reason.” Prasangka menyebabkan orang akan kehilangan kekritisannya. Tidak berusaha mencari tahu dan membiarkan diri hidup dalam prasangka justru akan membuat hati tidak bersih. Seperti yang diceritakan bahwa Arthur "Boo" Radley tidak pernah keluar rumah. Imajinasi Jem yang diceritakan pada Scout jauh dari kesan bahwa Boo sebenarnya adalah anak yang bersahabat. Sudah ada tanda-tanda sebelumnya bahwa Boo memiliki hati yang baik. Pertama, hadiah-hadiah yang disiapkan di ceruk pohon bagi Jem dan Scout. Kedua, celana Jem yang sudah tergantung dan sudah terjahit dengan rapi di pagar rumah keluarga Radley. Ketiga, diselamatkannya Jem dan Scout ketika pulang dari pesta Halloween.

Suatu permenungan yang mendalam-tentu saja karena pengalaman-ketika Scout mengingat apa kata ayahnya.Atticus benar. Dia pernah berkata, kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya. Hanya berdiri di serambi Radley pun cukup (h.507).

Arthur 'Boo' Radley adalah Mockingbird pertama.

Kebaikan dan Kejahatan
“The battleline between good and evil runs through the heart of every man.” demikian dikatakan oleh Alexander Solzhenitsyn-novelis Rusia. Itulah mengapa kita perlu pengetahuan. Pemahaman akan nilai kebaikan bukanlah sesuatu yang datangnya instan, namun sebuah proses dari budi manusia. Sebagai contoh sisi kebaikan seorang pengasuh pada keluarga Atticus. Cerita tentang Calpurnia yang mendidik Jem dan Scout tentunya tidak semata-mata karena Atticus telah membayarnya sebagai seorang pengasuh. Terlebih dari itu, karena ia mengasihi mereka. Tentunya bukan tugas pengasuh untuk menyuruh Scout menuliskan satu bab alkitab dengan tulisan bersambung (h.41), menarik Scout ke dapur karena Scout memprotes cara makan Walter Cunningham (h.51). Scout membenci hal itu. Namun, sebuah nasihat bijak Atticus pada Scout, "... Pikirkan betapa banyak yang dilakukan Cal untukmu, dan patuhilah perkataannya (h.53).

Sisi lain pada manusia, yaitu kejahatan dicontohkan pada persidangan Tom Robinson. Atticus dengan cerdas sudah mengungkapkan fakta bahwa tidak logis Tom Robinson yang memperkosa Mayella Ewell. Dengan sangat meyakinkan, Atticus memberi pernyataan di muka pengadilan bahwa apa yang terjadi atas diri Mayella adalah akibat kebodohan dan kemelaratan yang kejam (h.369). Tapi seharusnya tidak ada toleransi pada Mayella sebab ia berusaha menutupi bukti pelanggarannya bahkan sampai harus mengenyahkan Tom Robinson, karena kalau Tom Robinson masih ada akan mengingatkannya (Mayella) atas perbuatan memalukan yang dilakukannya. Apa salahnya menggoda seorang laki-laki? yang salah karena ia Mayella menggoda seorang Negro (h.370). Ada apa dengan Negro? Atticus melanjutkan bahwa ada asumsi atau prasangka jahat yang tertanam kuat di orang kulit putih bahwa Negro adalah makhluk tidak bermoral. Attiicus menambahkan bahwa perbuatan jahat maupun ketidakbermoralan adalah milik seluruh manusia, tidak berlaku pada satu ras saja. "Tak ada orang di ruang pengadilan ini yang belum pernah berbohong, yang belum pernah berbuat amoral, dan tak ada lelaki hidup yang tak pernah memandang seorang perempuan dengan hasrat" (h.370).

Pengadilan yang bersistem juri itu memutuskan lain. Seperti sudah tradisi, tidak ada juri yang membela kulit hitam. Ketika Hakim Taylor menerima secarik kertas yang berisi putusan juri, isinya:"Bersalah...bersalah...bersalah...bersalah...bersalah..."(h.383).

Namun, keluarga Tom yang Negro adalah orang yang tahu berterimakasih. Atticus dikirimi berbagai macam makanan ke rumahnya. Tidak seperti Bob Ewell, ia malah mengancam akan membunuh Atticus sampai kapanpun. Bob Ewell digambarkan sebagai orang pemalas, pemabuk, memakan uang asuransi, menelantarkan anak, seorang kidal (yang di pengadilan dibuktikan oleh Atticus bahwa dialah yang memukul Mayella), dan seorang (calon) pembunuh anak-anak Finch.

Tom Robinson akhirnya mati karena ia ditembak saat mencoba melarikan diri dari penjara. Tom Robinson adalah Mockingbird kedua.

Pentingnya Pendidikan
Salah satu keunggulan Atticus Finch ialah ia mendidik anaknya. Pendidikan adalah kunci untuk membuka kebodohan termasuk prasangka. Selepas waktu bekerja sebagai pengacara, ia bersama dengan Scout akan membaca artikel koran. Untuk Jem, ia membelikan majalah kesukaannya, Football. Apa sarananya? membaca dan bertanya. Scout dan Jem sering terlibat diskusi atau perdebatan, dan yang menjadi tempat bertanya terakhir adalah ayah mereka. Aku dan Jem sudah terbiasa dengan diksi ayah kami yang lebih cocok diterapkan pada surat wasiat, dan kami bebas menyela Attiicus kapanpun untuk memintanya menjelaskan kata-kata itu kalau ucapannya tak kami mengerti (h. 69)

Jika seorang Jem adalah anak biasa yang tidak terbekali dengan baik dengan apa yang terjadi di pengadilan, tentunya ia tidak akan marah ketika keputusan juri tidak berpihak pada Tom Robinson dalam hal ini Atticus sebagai pengacaranya. Pengalaman adalah guru terbaik. Jem benar-benar kecewa. Ia tadinya menganggap, bahwa orang-orang Maycomb adalah orang (yang kelihatannya) terbaik di dunia, namun tidak adanya yang membela Tom selain Atticus di kota itu. Mungkin terlalu berani seorang anak usia 12 tahun mengucapkan satu kalimat cerdas untuk merespon kalimat Miss Maudie yang pesimis; "Bicara memang gampang, tak bisakah hakim dan pengacara Kristen mengimbangi juri kafir? Kalau aku sudah dewasa? (h.392).

Hal serupa disampaikan oleh Jem kepada adiknya bahwa setiap orang harus belajar. Bahwa tidak ada manusia yang dari lahir sudah bisa membaca, ia mencontohkan kalaupun Walter tidak naik kelas itu karena ia harus membolos untuk bekerja dan membantu ayahnya.

Pendidikan yang baik setidaknya berasal dari rumah. Begitu yang dicontohkan oleh Atticus dan Calpurnia. Atticus mengajari Jem dan Scout membaca termasuk menghormati orang lain. Sejak ibu mereka meninggal, praktis yang mengasuh Jem dan Scout adalah Calpurnia. Calpurnia mendidik kedua kakak beradik tersebut seperti anaknya sendiri. Walaupun Calpurnia dari golongan Nigger, Atticus tidak berkeberatan. Suatu peristiwa dimana Scout berkomentar karena cara makan Walter tidak berkenan, Calipurnia menegurnya: "...Kalian mungkin memang lebih baik dari keluarga Cunningham, tapi kau tak ada artinya kalau mempermalukan mereka seperti itu..." (Hlm 57).

Fiksi yang Nonfiksi
Walau novel ini adalah cerita fiksi, namun tidak sepenuhnya tokoh dan tempat yang diceritakannya adalah khayalan. Maycomb, kota tempat ceritanya novel ini merepresentasikan kota Monroeville, Alabama, tempat Harper Lee tinggal. Jean Scout Louise yang berusia 6 tahun mewakili Lee yang lahir tahun 1926. Di kotanya, Lee memiliki tetangga yang dengan keluarga Radley, yakni keluarga Boulars, memiliki seorang anak yang hanya berdiam di rumah, yaitu Sonny Boular.

Ayah Lee, adalah seorang pengacara sama seperti Atticus Finch. Karakter Scout yang cerdas, usil, tomboy, sama dengan Lee. Lee menulis novel ini dalam kurun waktu 8 tahun, mungkin ia sudah melakukan riset yang sangat dalam untuk menulis novel ini, sekaligus mungkin enggan menulis novel berikutnya karena ia harus riset lagi minimal 8 tahun (soktau.com). Penggambaran paling jelas tokoh Dill dalam Novel ini adalah teman kecil Lee yaitu Truman Capote. Truman Capote juga seorang penulis novel. Ia menggambarkan Lee sebagai cewek yang tomboy, Idabel, dalam novelnya Other Voices, Other Rooms. Sementara Truman Capote digambarkan sebagai Dill oleh Lee dalam To Kill a Mockingbird. Wow...Intinya Lee dan Capote adalah teman baik.

Pada 25 Maret 1931, 9 orang negro ditangkap di Scoottsboro, Alabama karena dituduh memperkosa dua orang wanita kulit putih di kereta api. Kedua wanita itu, Victoria Price dan Ruby Bates berbohong karena menghindari akan ditangkap dan dipenjarakan. Seperti yang ditulis di novel ini bahwa kejahatan terbesar di Alabama adalah perkosaan. Dan semua terdakwa yang terbukti akan mendapat hukuman mati. Sama seperti Tom Robinson, 1 orang dari 9 negro itu memiliki kecacatan fisik, 1 lagi buta. Sepertinya mustahil untuk memperkosa dua wanita tersebut dan melarikan diri.

Pengacara seperti Atticus yang membela 9 orang itu adalah Samuel Liebowitz, dan hakim yang memimpin persidangan Scoottsboro adalah Hakim James E. Horton. Hakim ini mengesampingkan vonis bersalah dan itu menyebabkan ia tidak dipilih lagi sebagai hakim pada tahun selanjutnya. Ucapan Horton yang menutup persidangan adalah sebagai berikut:
History, sacred, and profane, and the common experience of mankind teach us that women of the character shown in this case are prone for selfish reasons to make false accusations of both rape and insult upon the slightest provocation, or even without provocation for ulterior purposes.

Sejarah kelam umat manusia yang dengan tega mengorbankan sesamanya dengan alasan warna kulit, adalah kekejaman terbesar. Harper Lee dengan tepat menuliskan novel ini,sebab akibat kesalahan masa lalu berupa prasangka dan kebodohan menyebabkan satu atau lebih mockingbird terbunuh.

Novel ini sangat bagus untuk dibaca. Bagi orangtua yang menyarankan pada anaknya untuk membaca novel ini, harap siap-siap ditanya istilah seperti perkosaan, negro, rasis, dan sebagainya. Apalagi setelah membaca novel ini diikuti dengan menonton filmnya, akan lebih terasa lagi kalau novel maupun filmnya membawa pesan maupun nilai yang memperkaya cara pandang kita.

description

@hws28022011


Helvry Sinaga
ISBN: 978-979-024-073-5
Halaman: 236Bookpaper
Ukuran: 13 x 20,5 cm
Terbit: November 2010
Penerbit: Serambi
Pengarang: Tahar Ben Jeloun


Korupsi bukan istilah baru bagi kita. Di belahan dunia manapun tidak bebbas dari korupsi. Hanya tingkat nya tinggi, sedang, ringan, atau bebas korupsi. Buku ini seolah cerminan negara kita, sama-sama negara berkembang, sama sama bekas jajahan negara Eropa. Tapi ada yang berbeda. Mereka dipimpin oleh raja yang pintar. Sebelum kita mengenal tokoh-tokoh maupun cerita dalam buku ini, mari kita intip sekilas data-data tentang Maroko.

Hari Kemerdekaan : 2 Maret 1956 (dari Perancis)
Sistem Hukum : berdasarkan Hukum Islam dan Perancis dan
Sistem hukum sipil Spanyol.
Kepala Negara : King Mohammed VI (Sejak 30 Juli 1999)
Kepala Pemerintahan : Perdana Menteri Abbas El Fassi (Sejak 19 September 2007)

Maroko terletak di utara Afrika, masih terdapat sengketa daerah Sahara Barat dimana antara Maroko dan Sahrawi Arab Democratic Republic (yang berkantor di Algeria) masih belum sepakat mengenai status wilayah itu. sementara itu, menurut situs www.cia.gov, Maroko merupakan point transit penjualan kokain yang berasal dari Amerika Selatan yang ditujukan ke Eropa Barat.

Kembali ke buku ini, menceritakan seorang pegawai negeri yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum Maroko. Namanya Murad. Posisinya cukup berpengaruh, ia menjabat sebagai Wakil Direktur Perencanaan dan Pembinaan. Ia cukup terdidik. Ia memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Universitas Mohamed V di Rabat, serta gelar insiyur dari sekolah di Perancis.

Jabatannya sangat penting dan diincar orang. Ia mempelajari berkas proyek dan jika ia menyetujui, ia akan memberi paraf. Tanpa parafnya, tak ada izin membangun. Pilihan hidupnya untuk tidak menerima amplop atau sejenisnya dari pihak rekanan, ternyata memiliki konsekuensi yang besar. Gajinya yang kecil, ia alokasikan untuk membiayai hidup bersama istri dan kedua anaknya. Tak cukup dengan gajinya, ia pun berutang dengan pemilik warung. Istrinya, Hilma, terus memprotes Murad. Bahkan Hilma mengina Murad dengan mengatakan bahwa Murad bukanlah laki-laki sejati.

Sebenarnya dengan latar belakang Murad yang berpendidikan sarjana ekonomi dan insinyur, merupakan nilai tambah untuk pilihan hidup yang lebih baik. Ia sebenarnya dapat menjadi Akuntan di perusahaan besar. Namun, mungkin Ben Jelloun ingin tampaknya memberi nuansa pada cerita ini dimana mencari pekerjaan tanpa melibatkan orang dalam adalah sesuatu hal yang hampir mustahil. Murad pun 'terjebak' dengan pilihannya sebagai pegawai negeri. Keluarga baru terbentuk. Anak-anak bertambah besar, kebutuhan keluarga meningkat seiring dengan deret hitung, sementara pertambahan gaji mengikuti deret ukur.

Konflik besar terjadi. Antara Hilma dan Murad sudah tak terjalin lagi cinta. Yang muncul dalam rumah tangga mereka lebih sering pertengkaran. Dan parahnya, Hilma menyerang Murad dengan kata-kata, yang lebih tepat penghinaan, "kamu seperti bapakmu!" (Hlm 54). Bagi Murad, harga dirinya sebagai laki-laki betul-betul pada titik nadir. Konflik rumah tangga ini menarik bila kita kaitkan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Shaunti Feldhan (dalam For Women only, 2004), yang menyimpulkan: banyak lelaki akan lebih memilih untuk tidak dicintai, daripada tidak dihormati. Berkebalikan dengan perempuan, justru dalam benak perempuan rasa dihormati bukanlah sesuatu yang terlalu penting jika dibandingkan dengan rasa dicintai dan diperhatikan.

Apa yang dialami oleh keluarga Murad, saya yakin banyak terjadi juga di Indonesia. Jika kita bertanya, mengapa ada korupsi? tersedia banyak jawaban. Saya kutip dari buku "Korupsi Mengorupsi Indonesia" (2010) tulisan "Memahami Korupsi" sebagai berikut.

Menurut Arvin K Jain, "Corruption: A Review", Concordia University, Journal of Economics Survei, Vol.15 No.1, 2001. Korupsi terjadi jika tiga hal terpenuhi, yaitu:

1) Seseorang memiliki kekuasaan termasuk untuk menentukan kebijakan publik dan melakukan administrasi kebijakan tersebut,
2) Adanya economics rents, yaitu manfaat ekonomi yang ada sebagai akibat kebijakan publik tersebut, dan
3) Sistem yang ada membuka peluang terjadinya pelanggaran oleh pejabat publik yang bersangkutan.


terlepas dari aspek di atas, masih banyak penyebabnya. Entah karena harga diri atau karena membandingkan diri dengan kehidupan rekan sejawat yang hidupnya berkelimpahan harta. Maka tak heran, kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan. Orang-orang seperti senior maupun rekan kerjanya turut berkontribusi membuat Gayus ikut "meniru" perilaku tersebut.

Apa langkah yang selanjutnya yang diambil oleh Murad adalah membiarkan dirinya pada pilihan-pilihan yang dilema itu. Antara menerima dan tidak amplop yang disisipkan di berkas, meninggalkan Hilma serta berpaling kepada Nadia, sepupunya, atau pergi meninggalkan semuanya? Mungkin sisi karakter laki-laki inilah yang hendak ditonjolkan oleh Ben Jelloun. Betul bahwa buku ini adalah semacam tribute pada Pramoedya Ananta Toer yang juga menerbitkan buku serupa, namun konflik tokoh di dalamnya jauh menurut saya lebih menarik didalami daripada korupsinya itu sendiri. Sebab korupsi sendiri adalah deviasi dari kemurnian, kejujuran, keadilan dan ketulusan manusia.

Ada sebuah disertasi yang membahas karakter laki-laki dan perempuan pada novel yang berjudul asli "L'Homme rompu" ini. Namun sayangnya, saya tidak berhasil mendapatkan softcopynya. Judul lengkapnya adalah Male-female relations in Tahar Ben Jelloun's "L'Homme rompu" and "La Nuit de l'erreur" oleh Shonu Nangia, Wayne State University.

Sosok Ben Jelloun juga masih baru bagi saya. Masih ada novel karangan beliau yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya pernah lihat covernya di web, tapi susah menemukannya kembali. Menurut saya, karya Ben Jelloun ini layak mendapat perhatian, mungkin karya beliau yang lain perlu juga dibawa ke Indonesia agar kita pun tahu cerita di dunia sana, seperti pada penutup kata pengantarnya: Cerita yang sepintas sama tetapi sesungguhnya berbeda ini, baik secara lokal maupun universal, adalah hal yang mendekatkan kami. Ya, kami, para pengarang dari Selatan, meskipun wilayah Selatan ini berada di timur jauh.

Ben Jelloun lahir di Maroko pada 1944. "Ibu saya buta huruf Ayah tahu cara membaca tapi. adalah seorang penjaga toko. Kami memiliki kehidupan yang sangat sederhana, tanpa musik atau buku, kecuali Al Qur'an." katanya.

Ia belajar filsafat di universitas Rabat, dan, setelah dibebaskan dari kamp militer di Ahermemon tahun 1968, ia mengajar selama tiga tahun di sekolah di Tetuan dan Casablanca, sebelum pemerintah memutuskan bahwa filsafat dapat diajarkan hanya dalam bahasa Arab klasik. Pada tahun yang sama, 1971, souffle jurnal sastra, yang ia tulis, dilarang, dan ia berangkat ke Perancis.

Di Paris dia meraih gelar doktor dalam psikiatri sosial, meneliti impotensi seksual di kalangan migran Afrika utara di rumah sakit. "Saya bukan dokter, taorang kepercayaan, "kata dia. "Luka-luka migrasi memukul saya di wajah:.. laki-laki yang hancur secara psikologis. aku pikir, seksualitas naluriah atau alami, tapi itu sangat terkait dengan perlindungan dalam dan konteks budaya." (sumber: http://www.guardian.co.uk/books/2006/may/06/featuresreviews.guardianreview27)

@hws27012011