Helvry Sinaga


Penerbit Komunitas Bambu bekerjasama dengan LKBN ANTARA menyelenggarakan:
Bedah Buku Sumatera Tempo Doeloe.
Dari Marco Polo sampai Tan Malaka
(Komunitas Bambu, November 2010)
disusun oleh Anthony Reid

Tempat:
Wisma Antara, Ruang Rapat Utama Lt. 19
Jl. Medan Merdeka Selatan, No. 17 Jakarta Pusat

Tanggal, jam:
Jum’at, 4 Maret 2011, pukul 15.00 – 17.00 WIB

Narasumber :

1. Basyral Hamidy Harahap
Sejarawan Sumatera yang banyak menulis buku tentang Sumatera. Beberapa punlikasinya antara lain, Kejuangan Adam Malik (1917–1984) (Yayasan Adam Malik, 1998); Greget Tuanku Rao (Komunitas Bambu, 2007); Dari Penyabungan ke Madina (2010); dan sejumlah makalah serta pengantar pada buku-buku sejarah, terutama kajian Sumatera Utara.

Basyral Hamidy Harahap dilahirkan di Mandailing Natal, 15 November 1940. Sebelumnya sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1965-1967) dan menjadi bibliographer Ikatan Penerbit Indonesia Pusat 1967-1969.

2. Dewi Anggraeni
Penyunting buku Sumatera Tempo Doeloe. Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Sehari-hari bekerja sebagai pengajar tetap Bahasa Jepang di Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Sebagai lulusan pascasarjana Program Studi Ilmu Susastra Universitas Indonesia, Dewi Anggraeni akan hadir tidak hanya memaparkan proses kreatif penyuntingan buku ini, namun juga membedah buku tersebut menggunakan kacamata seorang akademisi kesusasteraan.

Moderator: Uswatul Chabibah (Pemimpin Redaksi Penerbit Komunitas Bambu)

SINOPSIS
Sumatera Tempo Doeloe. Dari Marco Polo sampai Tan Malaka berisi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera. Dipilih dan disusun oleh pakar sejarah Sumatera paling terkemuka, Anthony Reid, membuat kumpulan catatan perjalanan para penjelajah yang pernah menginjakkan kaki langsung ke tanah Sumatera ini menjadi sebuah perkisahan memukau tentang periode panjang sejarah Sumatera dari abad ke-9 sampai ke-20.

Meskipun tidak menceritakan sejarah Sumatera secara runtun, buku ini mengelompokkan catatan-catatan perjalanan tersebut dalam topik-topik tertentu sehingga dapat diperoleh gambaran umum tentang perubahan sosial, budaya, agama maupun politik di Sumatera. Sebab itu buku dapat menjadi sejenis ‘pengantar’ yang dapat dipakai sebagai media paling cepat untuk memasuki ruh Sumatera.

Namun, buku ini tidak hanya berisi uraian umum perihal kondisi Sumatera. Dimasukkan juga pengamatan atas seluk-beluk daerah yang dikunjungi maupun tingkah-polah masyarakatnya, sehingga memberikan warna tersendiri. Tak ayal pembaca buku ini akan menemukan banyak uraian yang tidak muncul dalam tulisan-tulisan sejarah yang sifatnya resmi, misalnya penggambaran Marco Polo yang menyangka menemukan unicorn di Sumatera. Lain lagi John Davis, petualang Inggris yang menggambarkan Sultan Alau’ddin Ri’ayat Syah dengan sangat karikatural sebagai sultan Aceh yang “Tidak melakukan apa pun sepanjang hari selain makan dan minum”. Atau kesaksian-kesaksian yang bikin ketawa, seperti ketika Friedrich Schnitger menggambarkan permusuhannya dengan raja lokal gara-gara kesal profesinya sebagai antropolog dicemooh dengan julukan ‘dokter batu’.

Catatan yang dibuat Reid pada setiap kesaksian yang dipilih, bukan saja akan memudahkan setiap pembaca mengenali sosok si pemberi kesskian, memahami konteks zaman ketika kesaksian dibuat, tetapi juga bagaimana menafsirkan ulang dan mencermati secara kritis kesaksian yang diberikan, sehingga pembaca tidak sekadar hanya bernostalgia ke Sumatera Tempo Doeloe.

* * *

Penerbit Komunitas Bambu (www.komunitasbambu.com)
Jl. Pala No. 4B Beji Timur
Depok, 16422, Jawa Barat
Phone/Fax: 021 – 7720 6987 / 0813 8543 0505 (CP. Nana Kurnia)
Labels: | edit post
0 Responses

Post a Comment