Helvry Sinaga

Oleh NURUL FATCHIATI

Seiring dengan kemajuan zaman, cepat atau lambat buku elektronik akan semakin populer di masyarakat. Apalagi berbagai macam gadget elektronik bukan barang asing lagi. Pertanyaan yang muncul, apakah e-book akan mampu mendongkrak minat masyarakat untuk membaca buku dan mengembangkan industri perbukuan?

Bukanlah pemandangan aneh, ketika orangtua asyik membaca buku, anak-anaknya sibuk memainkan gadget. Ini adalah potret perbedaan gaya hidup antara generasi tua dan muda, terutama merebak di kelas menengah di kota besar.



Muncul pertanyaan, apakah mereka yang biasa membaca buku dalam format cetak akan beralih ke format e-book? Atau malah lebih parah, dengan mengalihkan kebiasaan membaca buku kepada ”pencarian hiburan” di dunia maya melalui berbagai jenis gadget?

Keaksaraan rendah

Buku adalah jendela dunia. Lewat buku, pikiran dan jiwa dapat mengembara menembus sekat- sekat ruang dan waktu. Buku mengantarkan orang kepada dunia baru. Namun, semua itu tiada berarti jika tingkat keaksaraan atau literasi masyarakat masih rendah.

Mengacu pada data Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang menyurvei tingkat literasi 45 negara (2006), tingkat keaksaraan di Indonesia berada pada posisi 41. Kemampuan literasi siswa sekolah dasar di Indonesia hanya empat peringkat lebih baik daripada siswa di Afrika Selatan. Padahal, tingkat kemampuan dasar dalam baca tulis menjadi bagian penting dalam memahami buku bacaan atau literatur.

Hasil survei PIRLS juga menyatakan, ketersediaan bahan bacaan di rumah pada masyarakat Indonesia masih termasuk dalam kategori menengah ke bawah. Kategori menengah yaitu jika jumlah bahan bacaan 25 hingga 100 buku, sedangkan kategori bawah jika jumlah buku bacaan di rumah kurang dari 25 buku. Fakta tersebut diperkuat dengan jumlah judul buku yang diproduksi setiap tahun di Indonesia yang terbilang masih rendah.

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dalam laporannya yang dipublikasikan Asean Book Publishers Association (ABPA) menyebutkan, pertumbuhan buku di Indonesia mencapai lebih dari 2.000 judul buku setiap bulannya (berdasarkan data Toko Buku Gramedia November 2009). Di tingkat Asia Tenggara, jumlah itu memang tampak besar dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Tahun 2009, Malaysia tercatat menerbitkan 13.157 judul buku per tahun, Thailand 3.460 judul buku per tahun, dan Brunei 91 judul buku per tahun.

Akan tetapi, dibandingkan dengan India dan China, jumlah produksi sekitar 18.000 judul buku per tahun di negeri ini terasa rendah. India tercatat menerbitkan sekitar 60.000 judul buku per tahun dan China 140.000 judul buku per tahun.

Tingkat kemampuan membaca dan menulis buku semakin lemah jika orangtua abai dalam menumbuhkan kebiasaan membaca buku. Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menjumpai fakta bahwa kebiasaan membaca buku masyarakat umumnya tumbuh atas kesadaran sendiri. Hanya satu dari empat responden yang mengaku adanya peran orangtua dalam menularkan kebiasaan membaca buku.

Isi saat senggang

Gejala penurunan kebiasaan membaca buku, khususnya buku non-pelajaran, terekam pula dalam jajak pendapat ini. Cukup memprihatinkan karena mayoritas responden menyatakan semakin jarang membaca dan membeli buku dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meskipun menjadi suatu keprihatinan, gejala penurunan minat membaca buku (cetak) tersebut tidak mengagetkan.

Pada dasarnya kebiasaan membaca buku di masyarakat memang belum cukup kuat. Membaca buku lebih berfungsi untuk mengisi waktu luang. Sebagian besar responden (58,3 persen) mengakui hal itu. Adapun yang membaca karena untuk menambah pengetahuan atau wawasan hanya 14,7 persen; untuk keperluan studi 13,8 persen; dan terkait pekerjaan (9,1 persen). Tampak di sini bahwa secara umum responden tidak punya kegiatan ”ritual” membaca buku.

Ada banyak alasan mengapa responden tidak punya kebiasaan membaca secara rutin. Selain soal sulitnya mengatur atau membagi waktu (37 persen), terdapat juga faktor masalah kelemahan fisik, seperti rasa lelah dan tak kuat membaca lama. Lebih dari separuh responden (58,7 persen) mengaku menghabiskan waktu kurang dari satu jam setiap kali membaca buku. Sedikit sekali yang bisa bertahan membaca hingga lebih dari dua jam.

Alasan lain, mereka lebih tertarik menonton televisi atau mengonsumsi media lainnya, seperti internet. Alasan ini seolah semakin mengukuhkan pendapat bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih senang ”menonton” atau ”mengobrol”.

Hal menarik lain dari temuan jajak pendapat adalah adanya kecenderungan pada responden yang lebih menyukai buku-buku keagamaan atau kerohanian (27,5 persen) dan novel (17,5 persen), yang umumnya memang dibaca saat senggang, istirahat, atau menjelang tidur. Artinya, kebiasaan membaca buku lebih terkait kebutuhan untuk mengendurkan ketegangan hidup, mencari hal-hal yang menenteramkan atau menghibur.

Konvergensi media

Hasil jajak pendapat ini juga merekam hasil menarik terkait fenomena perubahan pilihan media untuk membaca buku. Buku kini tak sekadar diakses sebagai benda berwujud kertas. Bagi sejumlah responden yang tidak lagi rutin membaca buku cetakan, berselancar di dunia maya menjadi alternatif. ”Electronic book” atau e-book menjadi salah satu pilihan bacaan di dunia maya. Satu dari empat responden menyatakan pernah membaca e-book secara online lewat internet.

Mereka yang pernah membaca e-book ternyata sebagian besar berusia muda, kurang dari 40 tahun. Namun, sejumlah responden yang berusia 60 tahun ke atas pun tak lantas gagap teknologi. Mereka juga mengaku tak asing dengan e-book.

E-book, seperti layaknya buku cetakan, juga tersedia dalam beragam jenis konten yang berupaya memenuhi selera publik. Sama dengan buku cetakan, tema religi menjadi pilihan terbanyak responden usia 50 tahun ke atas saat membaca e-book, begitu pula tema pendidikan dan kesehatan yang digandrungi kelompok usia 45–55 tahun.

Kalangan muda yang gemar dengan tema teknologi informasi serta penggemar novel dan komik berpotensi menjadi generasi online; yaitu generasi yang tetap membaca meskipun tak bersentuhan langsung dengan buku cetakan.

Sisi kepraktisan merupakan alasan terbesar responden yang memanfaatkan e-book sebagai sumber bacaan, di samping adanya kesadaran yang selaras dengan cinta lingkungan, atau kampanye go green yang kini gencar digaungkan.

Cepat atau lambat e-book akan makin populer. Sebagai media baru tentu memiliki karakteristiknya sendiri dibandingkan buku cetakan. Ada sisi lebih dan kurang. Sebagaimana penerbitan surat kabar, akhirnya industri perbukuan juga terisap masuk ke dalam konvergensi media.

Di satu sisi muncul harapan hal ini dapat lebih meningkatkan minat baca masyarakat. Di sisi lain muncul kekhawatiran tentang nasib penerbit kecil yang sulit menyesuaikan diri di tengah persaingan. Industri buku kian mengandalkan campur tangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus-menerus memperbarui diri. Konsekuensinya, dibutuhkan modal lebih besar. (Yohanes Krisnawan/Litbang Kompas)

sumber: Kompas, 29 Juni 2012
Labels: | edit post
0 Responses

Post a Comment